BAB I
PENDAHULUAN
Hematothoraks atau hemothorak adalah akumulasi darah pada
rongga intrapleura. Perdarahan dapat berasal dari pembuluh darah paru. Pada
trauma, yang tersering perdarahan berasal dari arteri interkostalis dan arteri
mammaria interna.
Akumulasi darah dalam dada atau hematothorak adalah
masalah yang relatif umum, paling sering akibat cedera untuk intrathoracic
struktur atau dinding dada. Hematothorak yang tidak berhubungan dengan trauma
jarang terjadi dan dapat disebabkan oleh berbagai penyebab. Identifikasi dan
pengobatan traumatik hematothorak adalah bagian penting dari perawatan pasien
yang terluka.
Hematothorak mengacu pada mengumpulnya darah dalam rongga
pleura. Walaupun beberapa penulisan menyatakan bahwa nilai hematokrit
setidaknya 50% diperlukan untuk mendefinisikan hematothorak (dibandingkan
dengan berdarah efusi pleura), sebagian besar tidak setuju pada perbedaan
tertentu. Meskipun etiologi paling umum adalah hematothorak tumpul atau trauma
tembus, itu juga dapat hasil dari sejumlah nontraumatic menyebabkan atau dapat
terjadi secara spontan.
Pentingnya evakuasi awal darah melalui luka dada yang ada
dan pada saat yang sama, menyatakan bahwa jika perdarahan dari dada tetap, luka
harus ditutup dengan harapana bahwa adanya tekanan intrathoracic akan menghentikan
perdarahan. Jika efek yang diinginkan tercapai, luka dapat dibuka kembali
beberapa hari kemudian untuk evakuasi tetap beku darah atau cairan serosa.
Mengukur frekuensi hematothorak dalam populasi umum
sulit. Hematothorak yang sangat kecil dapat dikaitkan dengan satu patahan
tulang rusuk dan mungkin tidak terdeteksi atau tidak memerlukan pengobatan.
Dislokasi fraktur dari vertebra torakal juga dapat
menyebabkan terjadinya hematothorak. Biasanya perdarahan berhenti spontan dan
tidak memerlukan intervensi operasi. Hematothorak akut yang cukup banyak yang
terlihat pada foto thorak, sebaiknya diterapi dengan selang dada kaliber besar.
Selang dada tersebut akan mengeluarkan darah dari rongga pleura, mengurangi
resiko terbentuknya bekuan darah di dalam rongga pleura, dan dapat dipakai
dalam memonitor kehilangan darah selanjutnya. Walaupun banyak faktor yang
berperan dalam memutuskan perlunya indikasi operasi pada penderit hematothorak,
status fisiologi dan volume darah yang keluar dari selang dada merupakan faktor
utama. Sebagai patokan bila darah yang dikeluarkan secara cepat dari selang
dada sebanyak 1500ml, atau nila darah yang keluar lebih dari 200ml tiap jam
untuk 2 sampai 4 jam, atau jika membutuhkan tranfusi darah terus menerus,
eksplorasi bedah harus dipertimbangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui dan
memahami tentang penyebab, penegakan diagnosis, serta penatalaksanaan pasien
hematothorak.
BAB
II
HEMATOTHORAKS
A.
Definisi
Hematothoraks adalah
adanya kumpulan darah di dalam ruang antara dinding dada dan paru-paru (rongga
pleura). Sumber darah mungkin dari dinding dada, parenkim, paru-paru, jantung
atau pembuluh darah besar. Kondisi biasanya merupakan akibat dari trauma tumpul
atau tajam. Ini juga mungkin merupakan komplikasi dari beberapa penyakit
(Puponegoro, 1995).
B. Anatomi
dan Fisiologi
1.
Anatomi
Thorax
Rongga thorax dibatasi oleh iga-iga, yeng bersatu
dibagian belakang pada vertebra torakalis dan di depan pada sternum. Kerangka
rongga thorax, meruncing pada bgian atas dan berbentuk kerucut terdiri dari
sternum, 12 vertebra torakalis, 10 pasang iga yang berakhir di anterior dalam
segmen tulang rawan dan 2 pasang yang melayang. Kartilago dari 6 iga memisahkan
articulatio dari sternum, kartilagi ke-7 samapi 10 berfungsi membentuk tepi
kostal sebelum menyambung kepada tepi bawa sternum. Perluasan rongga pleura di
ats klavikula dan di atas organ dalam abdomen penting untuk dievaluasi pada
luka tusuk.
Muskulus pectoralis mayor dan minor merupakan muskulus
utama dinding anterior thorax. Muskulus latissimus dorsi, trapezius,
rhombiodeus, dan muskulus gelang baru lainnya membentuk lapisan muskulus
posterior dinding posterior thorax. Tepi bawah muskulus pectoralis mayor
membentuk lipatan/plica axillalis posterior. Dada berisi organ vital yaitu paru
dan jantung. Pernapasan berlangsung dengan bantuan gerak dinding dada.
Inspirasi terjadi karena kontraksi otot pernapasan yaitu muskulus intercostalis
dan diafragma, yang menyebabkan rongga dada membesar sehingga udara akan
terhisap melalui trakea dan bronkus.
Pleura adalah membran aktif yang disertai dengan pembuluh
darah dan limfatik. Disana terdapat pergerakan cairan, fagositosis debris,
menambal kebocoran udara dan kapiler. Pleura visceralis menutupi paru dan
sifatnya sensitif, pleura ini berlanjut sampai ke hilus dan mediastinum bersama
± sama dengan pleura parietalis, yang melapisi dinding dalam thorax dan
diafragma. Pleura sedikit melebihi tepi paru pada setiap arah dan sepenuhnya
terisi dengan ekpansi paru ± paru normal, hanya ruang potensial yang ada.
Diafragma bagian muskular perifer berasal dari bagian
bawah iga ke enam kartilago kosta, dari vertebra lumbalis, dan dari lengkung
lumbokostal, bagian muskuler melengkung membentuk tendo sentral. Nervus
fremitus mempersarafi motorik dari interkostal bawah mempersarafi sensorik.
Diafragma yang naik setinggi puting susu, turut berperan dalam ventilasi
paru-paru selama respirasi biasa/tenang sekitar 75%.
2.
Anatomi
Pernapasan
Udara bergerak masuk dan keluar paru-paru karena ada
selisih tekanan yang terdapat antara atmosfir dan alveolus akibat kerja mekanik
otot-otot. Seperti yang telah diketahui, dinding thorax berfungsi sebagai
penembus. Selama inspirasi, volum thorax bertambah besar karena diafragma turun
dan iga terangkat akibat kontraksi beberapa otot yaitu sternokleidomastoideus
mengangkat sternum ke atas dan otot seratus, skalenus dan interkostalis
eksternus mengangkat iga-iga.
Selama pernapasan tenang, ekspirasi merupakan gerakan
pasif akibat elastisitas dinding dada dan paru-paru. Pada waktu otot
interkostalis eksternus relaksasi, dinding dada turun dan lengkung diafragma
naik ke atas ke dalam rongga thorax, menyebabkan volum thorax berkurang.
Pengurangan volum thorax ini meningkatkan tekanan intrapleura maupun tekanan
intrapulmonal. Selisih tekanan antara saluran udara dan atmosfir menjadi
terbalik, sehingga udara mengalir ke luar dari paru-paru sampai udara dan
tekanan atmosfir menjadi sama kembali pada akhir ekspirasi.
Tahap kedua dari proses pernapasan mencangkup proses
difusi gas-gas melintasi membran alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang
dari 0,5 µm). Kekuatan pendorong untuk pemindahan ini adalah, selisish tekanan
parsial antara darah dan fase gas. Tekanan parsial oksigen dalam atmosfer pada
permukaan laut besarnya sekitr 149 mmHg. Pada waktu oksigen di inspirasi dan
sampai di alveolus maka tekanan parsial ini akan mengalami penurunan sampai
sekitar 103 mmHg. Penurunan tekanan parsial ini terjadi berdasarkan fakta bahwa
udara inspirasi tercampur dengan udara dalam ruangan sepi anatomik saluran
udara dan dengan uap air. Perbedaan tekanan karbon dioksida antara darah dan
alveoulus yang jauh lebih rendah menyebabkan karbon dioksida berdifusi dalam
alveolus. Karbon dioksida ini kemudian dikeluarkan ke atmosfir.
Dalam keadaan beristirahat normal, difusi dan
keseimbangan oksigen di kapiler darah paru-paru dan alveolus berlangsung
kira-kira 0,25 detik dari total waktu kontak selama 0,75 detik. Hal ini
menimbulkan kesan bahwa paru-paru normal memiliki cukup cadangan waktu difusi.
Pada beberapa penyakit misalnya : fibosis paru, udara dapat menebal dan difusi
melambat sehingga ekuilibrium mungkin tidak lengkap, terutama sewaktu berolah
raga dimana waktu kontak total berkurang. Jadi, blok difusi dapat mendukung
terjadinya hipoksemia, tetapi tidak diakui sebagai faktor utama.
Adapun fungsi dari pernapasan adalah :
a.
Ventilasi
: memasukan atau mengeluarkan udara melalui jalan napas ke dalam atau dari paru
dengan cara inspirasi dan ekspirasi. Untuk melakukan fungsi ventilasi,
paru-paru memiliki beberapa komponen penting antara lain :
1)
Dinding
dada yang terdiri dari tulang, otot, saraf perifer
2)
Parenkim
paru yang terdiri dari saluran napas, alveoli, dan pembuluh darah
3)
Dua
lapisan pleura, yakni pleura viseralis yang membungkus erat jaringan parenkim
paru, dan pleura parietalis yang menempel erat ke dinding thorax bagian dalam. Diantara
kedua lapisan pleura terdapat rongga tipis yang normalnya tidak berisi apapun.
4)
Beberapa
reseptor yang berada di pembuluh darah arteri utama.
b.
Distribusi
: menyebarkan atau mengalirkan udara tersebut merata keseluruh sistem jalan
napas sampai alveoli.
c.
Difusi
: oksigen dan CO2 bertukar melalui membran semi permeable pada
dinding alveoli (pertukaran gas)
d.
Perfusi
: darah arterial di kapiler-kapiler meratakan pembagian muatan oksigennya dan
darah venous cukup tersedia untuk digantikan isinya dengan muatan oksigen yang
cukup untuk menghidupi jaringan tubuh
Volume paru-paru dibagi menjadi empat macam, yaitu :
a.
Volume
tidal merupakan volume udara yang diinspirasi dan diekspresikan pada setiap
pernapasan normal
b.
Volume
cadangan merupakan volume tambahan udara yang dapat diinspirasikan diatas
volume tidal normal
c.
Volume
cadangan ekspirasi merupakan jumlah udara yang masih dapat dikeluarkan dengan
ekspirasi kuat setelah akhir suatu ekspirasi
d.
Volume
residual adalah volume udara yang masih tersisa di dalam paru-paru setelah
melakukan ekspirasi kuat
Dalam
menguraikan peristiwa pada siklus paru-paru, juga diperlukan kapasitas
paru-paru yaitu:
1. Kapasitas inspirasi
2. Kapasitas residual fungsional
3. Kapasitas vital paksa
4. Kapasitas total paru-paru
Setiap
kegagalan atau hambatan dari rantai mekanisme tersebut akan menimbulkan
gangguan pada fungsi pernapasan, berarti berakibat kurangnya oksigenasi
jaringan tubuh. Hal ini misalnya terdapat pada suatu trauma pada thoraks. Selain
itu maka kelainan-kelainan dalam rongga thoraks, terutama kelainan jaringan
paru, selain menyebabkan berkurangnya elastisitas paru, juga dapat menimbulkan
gangguan pada salah satu atau semua fungsi pernapasan tersebut.
C. Definisi
Penyebab utama hematothoraks adalah
trauma, seperti luka penetrasi pada paru, jantung, pembuluh darah besar atau
dinding dada. Trauma tumpul pada dada juga dapat menyebabkan hematothoraks
karena laserasi pembuluh darah internal (Mancini,2011).
Menurut
Magerman (2010) penyebab hematothoraks antara lain:
1. Penetrasi
pada dada
2. Trauma
tumpul pada dada
3. Laserasi
jaringan paru
4. Laserasi
otot dan pembuluh darah intescostal
5. Laserasi
arteri mammaria internal
Secara
umum, penyebab terjadinya hematothorak sebagai berikut:
1. Traumatis
a. Trauma
tumpul
b. Penetrasi
trauma(trauma tembus termasuk iatrogenic)
2. Non
traumatik atau spontan
a. Neuplasia
(primer atau metastasis)
b. Dikrasi
darah, termasuk komplikasi antikoagulan
c. Emboli
paru dengan infark
d. Robek
adhesi pleura berkaitan dengan pneumothorax spontan
e. Bullous
emfisema
f. Tuberculosis
g. Paru
atriovenosa fistula
h. Nekrosis
akibat infeksi
i.
Patologi abdomen
Hemothorak masih sering
disebabkan oleh luka tembus yang merusak pembuluh darah sistemik atau pembuluha
darah dari hilus paru.
D. Patofisiologi
Hemothorak adalah
adanya darah yang masuk ke area pleura (antara pleura viseralis dan pleura
parietalis). Biasanya disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tajam pada
dada, yang mengakibatkan robeknya membrane serosa pada dinding dada bagian
dalam atau selaput pembungkus paru. Robekan ini akan mengakibatkan darah
mengalir ke dalam rongga pleura, yang akan menyebabkan penekanan pada paru.
Sumber perdarahannya
berasal dari A. interkostalis atau A. mammaria interna. Rongga hemithoraks
dapat meampung 3 liter cairan sehingga pasien hematothorak dapat syok berat
(kegagalan sirkulasi) tanpa terlihat adanya perdarahan yang nyata, oleh karena
perdarahan masih yang terjadi terkumpul di dalam rongga thoraks.
Perdarahan di dalam
rongga pleura dapat terjadi dengan hamper semua gangguan dari jaringan ada di
dinding dan pleura atau struktur intrathoracic. Respons fisiologis terhadap
perkembangan hemothorak diwujudkan dalam dua area utama :Hemodinamik dan
pernapasan.
Perubahan hemodinamik
bervariasi tergantung pada jumlah perdarahan dan kecepatan kehilangan darah.
Kehilangan darah hingga 750ml pada seorang pria 70-kg seharusnya tidak
menyebabkan perubahan hemodinamik yang signifikan. Hilangnya 750ml – 1500ml
pada individu yang sama akan menyebabkan gejala awal syok (yaitu, takikardia,
takipnea, dan penurunan tekanan darah).
Tanda- tanda signifikan
dari syok dengan tanda-tanda perfusi yang buruk terjadi dengan hilangnya volume
darah 30% atau lebih (1500-2000ml). karena rongga pleura seorang pria 70kg
dapat menampung 4 atau lebih liter darah, perdarahan dapat terjadi tanpa bukti
eksternal dari kehilangan darah.
Efek pendesakan dari
akumulasi besar darah dalam rongga pleura dapat menghambat gerakan pernapasan
normal. Dalam kasus trauma, kelainan ventilasi dan oksigenasi bisa terjadi,
terutama jika berhubungan dengan dinding dada. Sebuah kumpulan yang cukup besar
darah menyebabkan pasien mengalami dyspnea dan dapat menghasilkan temuan klinis
takipnea. Volume arah yang diperlukan untuk memproduksi gejala pada individu
tertentu bervariasi tergantung pada sejumlah faktor, termasuk organ cedera,
tingkat keparahan cidera, dan cadangan paru dan jantung yang mendasari. Dispnea
adalah gejala yang umum dalam kasus-kasus dimana hemothoraks berkembang dengan
cara yang membahayakan, seperti yang sekunder untuk penyakit metastasis.
Kehilangan darah dalam kasus tersebut tidak akut untuk menghasilkan respon
hemodinamik terlihat, dan dispnea menjadi keluhan utama.
Darah yang masuk ke
rongga pleura gerakan diafragma, paru-paru dan struktur intrathoracic lainnya.
Hal ini menyebabkan beberapa derajat defibrination darah sehingga pembekuan
tidak lengkap terjadi. Dalam beberapa jam penghentian perdarahan, krisis bekuan
yang sudah ada dengan enzim pleura dimulai. Krisis sel darah merah menghasilkan
peningkatan protein cairan pleura dan peningkatan tekanan osmotic dalam rongga
pleura. Tekanan osmotic tinggi intrapleura menghasilkan gradien osmotic antaa
runang pleura dan jaringan sekitarnya yang menyebabkan transudasi cairan ke
dalam rongga pleura. Dengan cara ini, sebuah hemothorak kecil dan tampak gejala
dapat berkembang menjadi besar dan gejala efusi pleura berdarah.
Dua keadaan patologis
yang berhubungan dengan tahap selanjutnya dari hemathorak adalah empiema dan
fibrothorak. Empiema hasil dari kontaminasi bakteri pada hemothorak jika tidak
terdeteksi atau ditangani dengan benar, hal ini dapat mengakibatkan syok
bakterimia dan sepsis.
Fibrothorak terjadi ketika deposisi
fibrin berkembang dalam hmothorak yang terorganisir dan melingkupi baik parietal
dan permukaan pleura visceral. Proses adhesive ini menyebabkan paru-paru tetap
pada posisinya dan mencegah dari berkembang sepenuhnya.
![]() |
Gambar
: Skema Patofisiologi Trauma Thorak
E. Klasifikasi
Pada orang dewasa
secara teoritis hematothorak terbagi dalam tiga golongan yaitu
1. Hematothorak
ringan
a. Jumlah
darah kurang dari 400cc
b. Tampak
sebagian bayangan
c. Kurang
dari 15% pada foto thorak
2. Hematothorak
sedang
a. Jumlah
darah 500cc-2000cc
b. 15%-35%
tertututup bayangan
c. Hematothorak
berat
d. Jumlah
darah dari 2000cc
e. 35%
tertutup bayangan
F. Manifestasi Klinis
Respon tubuh dengan
adanya hemothotorak dimanifestasikan dalam 2 area mayor :
a. Respon
hemodinamik
Respon
hemodinamik sangat tergantung pada jumlah perdarahan yang terjadi. Tanda tanda
syok seperti takikardi, takipneu, dan nadi yang lemah dapat muncul pada pasien yang kehilangan 30%
atau lebih volume darah.
b. Respon
Respiratorik
Akumulasi
darah pada pleura dapat menganggu pergerakan nafas. Pada kasus trauma, dapat
terjadi gangguan ventilasi , dan oksigenasi khususnya jika terdapat injury pada
dinding dada. Akumulasi darah dalam jumlah besar dapat menimbulkan dispnea.
(Mancini 2011).
Adapun tanda gejala dapat bersifat simptomatik namun dapat
juga asimptomatik. Asimptomatik di
dapatkan pada pasien dengan hematothorak yang sangat minimal sedangkan
kebanyakan pasien akan menunjukkan symptom diantaranya:
1. Nyeri
dada yang berkaitan dengan trauma dinding dada.
2. Takikardi,kehilangan
darah menyebabkan volume darah menurun, cardiac output menurun dan terjadi
hipoksia.
3. Dispnea
, adanya darah atau akumulasi cairan didalam rongga pleura sehingga
pengembangan paru terhambat dan pertukaran udara tidak adekuat sehingga terjadi
sesak nafas.
4. Takipnea
, akumulasi darah pada pleura menyebabkan hambatan pernafasan sehingga nafas
menjadi cepat.
5. Anemia
Pemeriksaan
Penunjang
1. Chest
X-ray : adanya gambaran hipodens (menunjukkan akumulasi cairan) pada rongga
pleura disisi yang terkena dan adanya mediastinum shift (menunjukkan
penyimpangan struktur mediastinal (jantung).
2. CT
Scan : diindikasikan untuk pasien dengan hemothorak minimal, untuk evaluasi
lokasi clotting (bekuan darah) dan untuk menentukan kuantitas atau jumlah
bekuan darah di rongga pleura.
3. USG
: USG yang digunakan adalah jenis FAST dan diindikasikan untuk pasien yang
tidak stabil dengan hemothorak minimal.
4. Nilai
AGD : hipoksemia mungkin disertai hiperkarbia yang menyebabkan asidosis
respiratorik. Saturasi oksigen arterial mungkin menurun pada awalnya tetapi
biasanya kembali normal dalam waktu 24 jam.
5. Cek
darah lengkap : menurunnya Hb , dan Ht menunjukkan jumlah darah yang hilang pada
hemothorak.
6. Thorakosentesis
: menunjukkan darah atau cairan serosanguinosa
G. Penatalaksanaan
1. Chest
tube ( tube thoracostomy drainage) : merupakan terapi utama untuk pasien dengan
hematothorak. Insersi chest tube melalui dinding dada untuk drainage darah dan
udara.
Indikasi
untuk pemasangan thorak tube antara lain :
a. Adanya
udara apada rongga dada (pneumothorak)
b. Perdarahan
di rongga dada (hemothorak)
c. Post
operasi atau trauma pada rongga dada (pneumothorak atau hemothorak).
d. Abses
paru atau pus di dalam rongga dada (empyema)
2. Thoracotomy
: merupakan prosedur pilihan untuk operasi eksplorasi rongga dada ketika
hemothorak massif atau terjadi perdarahan persisten. Operasi (thoracotomy)
diindiksikan apabila :
a. Satu
liter atau lebih dievakuasi segera dengan chest tube.
b. Perdarahan
persisten , sebanyak 150- 200 cc/jam selama 2-4 jam.
c. Diperlukan
transfuse berulang untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik.
d. Adanya
sisa clot sebanyak 500cc atau lebih.
3. Trombolitik
agent : digunakan untuk memecahkan bekuan darah pada chest tube atau ketika
bekuan telah membentuk massa di rongga pleura.
H. Komplikasi
Komplikasi dapat berupa
:
a. Kegagalan
pernafasan (paru-paru kolaps sehingga terjadi gagal nafas dan meninggal)
b. Fibrosis
atau skar pada membrane pleura
c. Pneumothoraks
d. Pneumonia
e. Septisemia
f. Syok
I. Prognosis
Prognosis berdasarkan pada penyebab
dari hematothoraks dan seberapa cepat penangana diberikan. Apabila penanganan
tidak dilakukan segera maka kondisi pasien dapat bertambah buruk karena akan
terjadi akumulasi darah di rongga thorak yang menyebabkan paru-paru kolaps dan
mendorong mediastinum serta trachea ke sisi yang sehat.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
HEMATOTHORAK
A.
Pengkajian
1.
Sistem Pernapasan :
Sesak napas , Nyeri , batuk-batuk , Terdapat
retraksi , klavikula / dada . Pengambangan paru tidak simetris. Fremitus
menurun dibandingkan dengan sisi yang lain. Pada perkusi ditemukan Adanya suara
sonor / hipersonor / timpani , hematotraks ( redup ) Pada asukultasi suara
nafas , menurun , bising napas yang berkurang / menghilang . Pekak dengan batas
seperti , garis miring / tidak jelas.
Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat. Gerakan dada tidak sama waktu bernapas.
Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat. Gerakan dada tidak sama waktu bernapas.
2.
Sistem Kardiovaskuler :
Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk.
Takhikardia , lemah , Pucat , Hbturun / normal .Hipotensi.
Takhikardia , lemah , Pucat , Hbturun / normal .Hipotensi.
3.
Sistem Persyarafan :
Tidak ada kelainan.
4.
Sistem Perkemihan.
Tidak ada kelainan.
5.
Sistem Pencernaan :
Tidak ada kelainan.
6.
Sistem Muskuloskeletal – Integumen.
Kemampuan sendi terbatas . Ada luka bekas tusukan
benda tajam.
Terdapat kelemahan.Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.
Terdapat kelemahan.Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.
7.
Sistem Endokrine :
Terjadi peningkatan metabolisme. Kelemahan.
8.
Sistem Sosial / Interaksi.
Tidak ada hambatan.
9.
Spiritual :
Ansietas, gelisah, bingung, pingsan.
10. Pemeriksaan
Diagnostik :
Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/cairan
pada area pleural. Pa Co2 kadang – kadang menurun. Pa O2 normal / menurun.
Saturasi O2 menurun (biasanya). Hb mungkin menurun (kehilangan darah).
Toraksentesis : menyatakan darah/cairan,
Saturasi O2 menurun (biasanya). Hb mungkin menurun (kehilangan darah).
Toraksentesis : menyatakan darah/cairan,
B.
Diagnosa Keperawatan
1.
Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan
ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.
2.
Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan
dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan
keletihan.
3.
Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan
reflek spasme otot sekunder.
C.
Intevensi Keperawatan :
1.
Ketidakefektifan pola pernapasan
berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma.
Tujuan :
Pola pernapasan efektive.
Kriteria hasil :
Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive.
Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.
Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.
Intervensi :
a.
Berikan posisi yang nyaman, biasanya
dnegan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien
untuk duduk sebanyak mungkin.
R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi
paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.
b.
Obsservasi fungsi pernapasan, catat
frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.
R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat
terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan
terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.
c.
Jelaskan pada klien bahwa tindakan
tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas
dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
d.
Jelaskan pada klien tentang
etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan
kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
e.
Pertahankan perilaku tenang, bantu
pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.
R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang
dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.
2.
Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan
peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan
keletihan.
Tujuan : Jalan napas lancar/normal
Kriteria hasil : Menunjukkan batuk yang efektif. Tidak
ada lagi penumpukan sekret di sal.pernapasan.Klien
nyaman.
a.
Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan
mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.
R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu
mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
b.
Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.
R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi
keefektifan upaya batuk klien
c.
Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah
batuk.
R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa
kesejahteraan dan mencegah bau mulut.
d.
Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter,
radiologi dan fisioterapi.
Pemberian expectoran. Pemberian antibiotika. Fisioterapi dada.Konsul photo toraks.
Pemberian expectoran. Pemberian antibiotika. Fisioterapi dada.Konsul photo toraks.
R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan
lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.
3.
Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan
reflek spasme otot sekunder.
Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.
Kriteria hasil :
Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.
Dapat mengindentifikasi aktivitas yang
meningkatkan/menurunkan nyeri.Pasien tidak gelisah.
a.
Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri
nonfarmakologi dan non invasif.
R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan
nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
b.
Berikan kesempatan waktu istirahat
bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu tidur,
belakangnya dipasang bantal kecil.
R/ Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan
kenyamanan.
c.
Tingkatkan pengetahuan tentang :
sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.
R/ Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi
nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana
teraupetik.
d.
Kolaborasi denmgan dokter, pemberian
analgetik.
R/ Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan
berkurang.
DAFTAR
PUSTAKA
Guyton&Hall. 2007.
Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. EGC:Jakarta
Pusponegoro , A . D.1995. Ilmu Bedah Saraf. FK UI.Jakarta
Hudak, C.M. 1995. Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC
Setiawan, I, Tengadi K.A, Santoso, A. 1997. Buku Ajar
Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. EGC: Jakarta
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia:Jakarta

Harrah's Atlantic City - MapyRO
ReplyDeleteThe cheapest way to get from Harrah's Atlantic City to 파주 출장안마 Harrah's Casino, Atlantic City costs only $6, and the quickest 서귀포 출장안마 way 울산광역 출장샵 takes just 13 mins. Find the 동해 출장안마 travel 서산 출장샵 option that