Monday, 7 November 2016

asma (keperawatan)









                      

ASMA

A.    DEFINISI

Asma adalah suatu gangguan pada saluran bronkial yang mempunyai ciri bronkospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas) terutama pada percabangan trakeobronkial yang dapat diakibatkan oleh berbagai stimulus seperti faktor biokemikal, endokrin, otonomik, dan psikologi.



B.     ANATOMI DAN FISIOLOGI



Description: Hasil gambar untuk anfis asma

Gambar: system pernafasan



Fungsi sistem pernafasan adalah untuk mengambil oksigen (O2) dari atmosfer ke dalam sel-sel tubuh dan untuk mentransfer karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan sel-sel tubuh kembali ke atmosfer.  Organ-organ respiratorik juga berfungsi dalam produksi wicara dan berperan dalam keseimbangan asam basa, pertahanan tubuh, melawan benda asing dan pengaturan hormonal tekanan darah.



1.      Rongga Hidung dan Nasal

Hidung terdiri dari atas bagian internal dan eksternal.  Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago.  Nares anterior (lubang hidung) merupakan ortium terluar dari rongga hidung.  Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum.  Masing-masing rongga hidung dibagi menjadi tiga saluran oleh penonjolan turbinasi (konka) dari dinding lateral. Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung.  Lendir disekresi secara terus-menerus oleh sel-sel gobler yang melapisi permukaan mukosa hidung dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan cita.

Sinus paranasal termasuk empat pasang rongga berlubang yang dilapisi oleh mukosa hidung dan epitel kolumnor tertingkat semu yang bersilia.  Fungsi sinus yang menonjol adalah sebagai bilik peresonansi saat berbicara dan menjadi tempat umum terjadinya infeksi.

Arus udara yang memasuki lubang hidung diarahkan ke atas depan ke langit-langit hidung dan mengikuti rute sirkuit sebelum udara mencapai nasofaring.  Dalam perjalanannya, udara bersentuhan dengan permukaan membran mukosa yang luas, lembab dan hangat yang menangkap partikel-partikel debu dan organisme dalam udara  yang dinhalasi.  Udara ini dilembabkan dan dihangatkan sesuai dengan suhu tubuh dan dihubungkan dengan saraf yang sensitif.  Beberapa dari saraf ini mendeteksi bau dan lainnya yang  mencetuskan  bersin untuk mengeluarkan debu yang mengiritasi.

Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru.  Jalan nafas ini berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru.

2.      Faring

Faring atau tenggorok adalah struktur sepeti tuba yang menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring.  Faring dibagi menjadi nasofaring, orofaring dan laringofaring.

Nasofaring terletak di sebelah posturor hidung dan di atas palatum osofaring memuat fausial atau palatum tonsil.  Laringofaring memanjang dari tulang hioid ke kartilago krikoid, pintu masuk laring dibentuk oleh epiglotis.

Adenoid atau tonsil faring, terletak pada langit-langit nasofaring.  Tenggorok dikelilingi oleh tonsil, adenoid dan jaringan limfoid lainnya.  Struktur in merupakan penghubung penting dari nodus limfe dagu yang menjaga tubuh dari serangan organisme yang memasuki hidung dan tenggorok.  Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif.

3.      Laring

Laring, atau orga suara adalah struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dengan trakea. Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi.  Laring juga melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk.  Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri atas:

a.       Epiglotis, daun katup kartolago yang menutupi astrum ke arah laring selama menelan.

b.      Glotis, ostrum antara pita suara dalam laring.

c.       Kartilago tiroid, kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini membentuk jakun (adam’s apple)

d.      Kartilago krikoid, satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring

e.       Kartilago aritenoid digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid.

f.       Pita suara, ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara, pita suara terletak pada lumen laring.

4.      Trakea

Trakea adalah tuba dengan panjang 10 cm sampai 12 cm dan diameter 2,5 cm serta terletak di atas permukaan anterior esofagus.  Tuba ini melintang dari laring sampai bronkus. Trakea dapat tetap terbuka karena adanya 16 sampai 20 cincin kartilago berbentuk C.  Ujung posterior mulut cincin dihubungkan oleh jaringan ikat dan otot sehingga memungkinkan ekspansi esofagus.  Trakea dilapisi epitelium respiratorik (kolumner bertingkat dan bersilia) yang mengandung banyak sel goblet, berfungsi untuk mengantarkan udara menuju bronkus.

5.      Percabangan Bronkus

Bronkus primer (utama) kanan berukuran lebih pendek, lebih kecil dan lebih lurus dibandingkan bronkus primer kiri karena artus aorta membelokkan trakea bawah ke kanan.  Objek asing yang masuk ke dalam trakea kemungkinan ditempatkan dalam bronkus kanan.





6.      Paru-paru

Paru-paru adalah organ elastik yang berbentuk piramid seperti spons dan berisi udara, terletak di dalam rongga toraks.  Setiap paru  dibagi menjadi lobus-lobus.  Paru kiri dibagi menjadi 2 lobus, sementara paru kanan mempunyai 3 lobus.

Bagian terluar paru dikelilingi oleh membran halus, licin yaitu pleura, yang juga meluas untuk membungkus dinding interior toraks dan permukaan superior diafragma.  Pleura perietalis melapisi toraks dan pleura viseralis melapisi paru-paru.  Antara kedua pleura ini terdapat ruang yang disebut spasium pleura, yang mengandung sejumlah kecil cairan yang melicinkan permukaan dan memungkinkan keduanya bergeser dengan bebas selama ventilasi.

Bronkus dan bronkiolus, terdapat beberapa deviasi bronkus di dalam setiap lobus paru.  Pertama adalah bronkus lobaris (tiga pada paru kanan dan dua pada paru kiri).  Bronkus lobaris dibagi menjadi bronkus sigmental yang merupakan struktur  yang dicari ketika memilih posisi drainase postural yang paling efektif untuk pasien tertentu.  Bronkus segmental kemudian dibagi lagi menjadi bronkus subsigmental, bronkus ini dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki arteri, limfatik dan saraf.  Bronkus segmental kemudian membentuk percabangan menjadi bronkiolus, selanjutnya terus bercabang membentuk bronkiolus terminal, bronkiolus respiratori, duktus alveolar dan alveoli.  Tidak ada kartilago dalam bronkiolus, silia masih ada sampai bronkiolus respiratorik terkecil.

Alveoli, paru terbentuk oleh sekitar 300 juta alveoli, yang tersusun dalam kluster antara 15 sampai 20 alveoli.  Terdapat tiga jenis sel-sel alveolar, sel-sel alveolar tipe I adalah sel epitel yang membentuk dinding alveolar.  Sel-sel alveolar tipe II, sel-sel yang aktif secara metabolik, mensekresi surfaktan (suatu fosfolipid) yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps.  Sel alveolar III adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagositis yang besar yang memakan benda asing (misal: lendir, bakteri) dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan yang penting).



Mekanisme Ventilasi

Selama respirasi, udara mengalir dari lingkungan sekitar ke dalam trakea, bronkus, bronkiolus dan alveoli.  Selama ekspirasi, gas alveolar menjalani rute yang sama dengan arah yang berlawanan.

Selama inspirasi gerakan diafragma dan otot-otot pernafasan lain memperbesar rongga toraks dan dengan demikian menurunkan tekanan di dalam toraks sampai tingkat di bawah tekanan atmosfir.  Karenanya, udara tertarik melalui trakea dan bronkus ke dalam alveoli.

Selama ekspirasi normal, diafragma rileks dan paru-paru menyempit mengakibatkan penurunan ukuran rongga toraks.  Tekanan alveolar kemudian melebihi tekanan atmosfir dan udara mengalir dari paru-paru ke dalam atmosfir.



Pertukaran Gas

Setelah pertukaran kapiler jaringan ini, darah memasuki vena sistemik (dimana disebut darah vena) dan mengalir ke sirkulasi pulmonal.  Konsentrasi oksigen dalam darah di dalam kapiler paru-paru lebih rendah dibanding dengan konsentrasi dalam kantung udara paru, yang disebut alveoli.  Sebagai akibat gradien konsentrasi ini, dengan berdifusi dari alveoli ke dalam darah . karbon dioksida yang mempunyai konsentrasi dalam darah lebih tinggi dari konsentrasi dalam alveoli berdifusi dari darah ke alveoli.

Volume dan Kapasitas Paru

1.      Volume

a.       Volume tidal (VT) adalah volume udara yang masuk dan keluar paru-paru selama ventilasi normal biasa ( + 500 ml)

b.      Volume cadangan inspirasi (VCI) adalah volume udara ektra yang masuk ke paru-paru dengan inspirasi maksimum di atas inspirasi tidal (3.150 ml untuk laki-laki dan 1900 ml pada perempuan)

c.       Volume cadangan eksprasi (VCE) adalah volume ekstra udara yang dapat dengan kuat dikeluarkan pada akhir ekspirasi tidal normal (1.200 ml pada laki-laki dan 800 ml pada perempuan).

d.      Volume residual (VR) adalah volume udara sisa dalam paru-paru setelah melakukan ekspirasi kuat (1.200 ml pada laki-laki dan 1.00 ml pada perempuan).

2.      Kapasitas

a.       Kapasitas residual fungsional (KFR) adalah penambahan volume residual dan volume cadangan eksprasi (2.200 ml)

b.      Kapasitas inspirasi (KI) adalah penambahan volume tidal dan volume cadangan inspirasi (3.500 ml)

c.       Kapasitas Vital (KV) adalah penambahan volume tidal, volume cadangan inspirasi dan volume cadangan ekspirasi (4.500 ml)

d.      Kapasitas total paru (KTP) adalah jumlah total udara yang dapat ditampung dalam paru-paru dan sama dengan kapasitas vital ditambah volume resideal (5.700 ml).



Description: Hasil gambar untuk anfis asma

Gambar: normal bronchiole dan asthmatic bronchiole























C.    
Faktor pencetus serangan asma : alergen, infeksi saluran nafas, obat-obatan, polusi udara lingkungan kerja
 
PATOFISIOLOGI

Rounded Rectangle: -kecemasan
-ketidaktahuan / pemenuhan informasi






D.     











E.      







F.       

G.     




















D.    PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan Medis Keperawatan

1.      Pengobatan non farmakologi

a.       Penyuluhan

Penyuluhan ini ditujukan untuk peningkatan pengetahuan klien tentang penyakit asma sehingga klien secara sadar menghindari faktor-faktor pencetus, menggunakan obat secara benar, dan berkonsultasi pada tim kesehatan.

b.      Menghindari faktor pencetus

Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asma yang ada pada lingkungannya, diajarkan cara menghindari dan mengurangi faktor pencetus, termasuk intake cairan yang cukup bagi klien.

c.       Fisioterapi

Dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus. Dapat dilakukan dengan postural drainase, perkusi, dan fibrasi dada

2.      Pengobatan farmakologi

a.       Agonis beta : metaproterenol (alupent, metrapel). Bentuknya seperti aerosol, bekerja sangat cepat, diberikan sebanyak 3-4 kali semprot,dan jarak antara semprotan pertama dan kedua adalah 10 menit.

b.      Mentilxantin, dosis dewasa diberikan 125 -200 mg empat kali sehari. Golongan obat ini adalah aminofilin dan teofilin. Obat ini diberikan bila golongan beta agonis tidak memberikan hasil yang memuaskan.

c.       Kortikosteroid

Jika agonis beta dan metilxantin tidak memberikan repon yang baik, harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol dengan dosis 4 kali semprot tiap hari. Pemberian steroid dalam jangka yang lama mempunyai efeksamping, maka klien yang dapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat.

d.      Kromolin dan imprutropioum bromide (atroven). Kromolin merupakan obat pencegah asma khususnya untuk anak-anak. Dosis imprutropioum bromide diberikan 1-2 kapsul 4 kali sehari.



E.     PENGKAJIAN ASMA

1.      Pengkajian Sekunder

a.       Airway

1)      Apakah pasien berbicara dan bernafas secara bebas

2)      Terjadi penurunan kesadaran

3)      Suara nafas abnormal wheezing mengi dll

4)      Penggunaan otot-otot bantu pernafasan

5)      Gelisah

6)      Sianosis

7)      Kejang

8)      Retensi lendir

9)      Suara serak

10)  Batuk

b.      Breathing

1)      Adakah suara abnormal wheexing mengi dll

2)      Sianosis

3)      Takipneu

4)      Dispnea

5)      Hipoksia

6)      Panjang pendeknya inspirasi ekspirasi

c.       Circulation

1)      hipotensi / hipertensi

2)      takipnu

3)      hipotermi

4)      pucat

5)      ekstermitas dingin

6)      penuruanan capillary refill

7)      produksi urine menurun

8)      nyeri

9)       pembesaran kelenjar getah bening

2.      Pengkajian sekunder

a.       Riwayat penyakit sekarang

1)      Alasan masuk rumah sakit

2)      Waktu kejadian hingga masuk rumah sakit

3)      Mekanisme atau biomekanik

4)      Lingkungan keluarga, kerja, masyarakat sekitar

b.      Riwayat penyakit dahulu

c.       Perawatan yang pernah dialami

Penyakit lainnya antara lain DM, Hipertensi, PJK dll

d.      Riwayat penyakit keluarga

Penyakit yang diderita oleh anggota keluarga

e.       Pengkajian head to toe

1)      Pengkajian kepala leher wajah

2)      Pengkajian dada

3)      Pengkajian abdomen dan pelvis

4)      Pengkajian extremitas

5)      Pengkajian tulang belakang



F.      DIAGNOSA

1.      Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan adanya bronkhokontriksi, bronkhospasme, edema mukosa dan dinding bronkhus, serta sekresi mukus yang kental.

2.      Reiko tinggi ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan peningkatan kerja pernafasan, hipoksemia, dan ancaman gagal nafas.

3.      Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan serangan asma menetap



G.    Nursing Care Plan

No
Diagnosa
Tujuan / criteria hasil
Intervensi
1.
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan adanya bronkhokontriksi, bronkhospasme, edema mukosa dan dinding bronkhus, serta sekresi mukus yang kental
a.       Dapat mendemonstrasikan batuk efektif.
b.      Dapat menyatakan strategi untuk menunrunkan  kekentalan sekresi.
c.       Tidak ada suara napas tambahan dan wheezing (-)
d.       Pernapasan klien normal (16-20x/m) tanpa ada penggunaan oto bantu napas.

a.    Kaji warna,kekentalan,dan jumlah sputum
b.   Atur posisi semifowler & bantu klien latihan napas dalam
c.    Ajarkan cara batuk efektif
d.  Kolaborasi pemberian obat bronkodilator gologan b2
·      Nebulizer (via inhalasi) Pemberian kortikosteroid
2.
Reiko tinggi ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan peningkatan kerja pernafasan, hipoksemia, dan ancaman gagal nafas.

a.       Pola napas kembali efektif
b.      Bunyi napas normal atau bersih
c.       Tanda-tanda vital dalam batas normal
d.      Batuk berkurang
a.       Kaji frekuensi kedalaman pernapasan dan ekspansi dada. Catat upaya pernapasan termasuk penggunaan otot bantu pernapasan.
b.      Bantu pasien dalam latihan untuk batuk
c.       Ajarkan pasien untuk latihan batuk secara benar.
d.      Kolaborasikan dengan dokter untuk pembrian obat
3.
Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan serangan asma menetap
a.       Mendemonstrasikan perbaiakan ventilasi dan keadekuatan O2.
b.      Bebas dari gejala kegagalan pernapasan
a.       Observasi kualitas pernapasan kedalaman dan penggunaan otot pernapsan tambahan
b.      Bantu pasien untuk mengeluarkan sputum
c.       Ajarkan cara memposisikan badan dengan benar



















ATELEKTAKSIS

A.    DEFINISI

 Atelektasi adalah suatu kondisi dimana paru-paru tidak dapat mengembang secara sempurna

Atelektasis adalah penyakit restritif akut yang umum terjadi, mencangkup kolaps jaringan paru atau unit fungsional paru. Atelektasis merupakan masalah umum klien pasca operasi.



B.     ANATOMI FISIOLOGI



Description: Hasil gambar untuk sistem pernafasan

1.      Anantomi fisiologi pernafasan atas

a.       Hidung

Hidung merupakan saluran udara yang pertama yang mempunyai dua lubang (kavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Didalamnya terdapat bulu – bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran yang masuk ke lubang hidung.



b.      Sinus paranasal

Terdiri dari sinus frontalis, etmoidalis, sphenoidalis dan maxillaris yang bermuara di rongga hidung. Sinus paranasal ini berfungsi untuk membantu menghangatkan dan humidifikasi, meringankan berat tulang tengkorak, dan mengatur bunyi suara dengan ruang – ruang resonansi.

c.       Faring

Faring / tekak merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan, terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Faring berfungi untuk menelan dan respirasi.

2.      Anatomi fisiologi pernafasan bawah

a.       Laring

Laring atau pangkal tenggorok merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara, terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk kedalam trakea dibawahnya. Pangkal tenggorok itu dapat ditutup oleh sebuah empeng tenggorok yang disebut epiglotis yang terdiri dari tulang – tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan makanan menutupi laring. Laring berfungsi untuk pembentukan suara.

b.      Trakea

Trakea atau batang tenggorok merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 – 20 cincin yang terdiri dari tulang – tulang grawan yang terbentuk seperti kuku kuda. Terdapat sel bersillia yang berfungsi untuk mengeluarkan benda – benda asing yang masuk bersama – sama dengan udara pernafasan.

c.       Bronkus

Bronkus atau cabang tenggorok merupakan lanjutan dari trakea, mempunyaistruktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis set yang sama. Bronkus kanan lebih pendek dari bronkus kiri terdiri 6 – 8 cincin, mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari kanan terdiri dari 9 – 12 cincin mempunyai 2 cabang.Saluran pernapasan udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, faring, laring, trakea, bronkus, dan bronkhiolus. Saluran dari bronkus sampai bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa yang bersilia. Udara mengalir dari faring menuju laring atau kotak suara, laring merupakan rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot-otot dan mengandung pita suara. Trakea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk seperti sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 5 inci. Struktur trakea dan bronkus dianalogkan sebagai suatu pohon dan oleh karena itu dinamakan pohon trakeobronkial. Bronkus terdiri dari bronkus kiri dan kanan yang tidak simetris, bronkus kanan lebih pendek dan lebar dan merupakan kelanjutan dari trakea, cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan bronkus segmentalis, percabangan ini berjalan menuju terus menjadi bronkus yang ukurannya sangat kecil sampai akhirnya menjadi bronkus terminalis yaitu saluran udara yang mengandung alveoli, setelah bronkus terminalis terdapat asinus yaitu tempat pertukaran gas.



























































C.     PATOFISIOLOGI

 






















































Oksigen jaringan menurun
 
                              








D.    PENATALAKSANAAN

Tujuan pengobatan adalah menghancurkan atau (lisis) emboli yang ada dan mencegah pembentukan yang baru. Pengobatan embolisme paru dapat mencakup beragam modalitas seperti terapi antikoagulan, terapi trombolitik, tindakan umum untuk meningkatan status pernapasan dan vascular, dan intervensi bedah.

1.      Terapi anti koagulan ( Heparin, Natrium, dan Warfarin)

Telah menjadi metode primer secara tradisional untuk mengatasi trmbosit vena provundus akut dan embolisme paru. Heparin digunakan untuk mencegah kekambuhan emboli tetapi tidak mempunyai efek pada emboli yang sudah ada sebelumnya. Heparin diberikan dalam bolus intravena 5000 unit diikuti dengan infus kontinu 10.000 unit/ jam. Tujuannya untuk mempertahankan masa troboplastin parsial (PTT) 1,5-2 kali nilai normal. Heparin diberikan 5-7 hari. Pemberian komadin dimulai dalam 24 jam setelah dimulainya terapi  heparin dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Masa protombin dipertahankan pada 1,5 kali nilai normal. Terapi antikoagulan dikontraindikasikan pada klien yang beresiko mengalami perdarahan.

2.      Terapi Trombolitik

Terapi trombolitik mungkin juga digunakan dalam mengatasi embolisme paru terutama pada klien yang sangat terganggu, terapi trombolitik menghancurkan thrombus atau emboli lebih cepat dan memulihkan fungsi hemodinamik sirkulasi paru lebih besar, karenanya menggurangi hupertensi paru dan memperbaiki perfusi, oksigenasi dan curah jantung. namun perdarahan merupakan efek samping yang signifikan. Akibatnya preparatrombolitik disarankan pada klien dengan thrombus yang mengenai vena popliteal atau vena profundus femur dan pelvis, dan untuk klien dengan embolisme paru massif yang mengenai area signifikan aliran darah ke paru.

3.      Tindakan umum untuk meningkatkan status pernapasan dan vaskuler

Tindakan lain dilakukan untuk memperbaiki status pernapasan dan vascular klien. Terapi oksigen diberikan untuk memperbaiki hipoksia dan menghilangkan vasokontriksi vaskuler paru serta mengurangi hipertensi paru stasis vena dikurangi dengan menggunakan stoking elastic atau alat kompresi tungkai intermiten. Tindakan ini menekan vena superficial dan meningkatkan kecepatan darah dalam vena profunda dengan mengarahkan kembali darah melalui vena profunda. Dengan demikian stasis vena dikurangi. Meninggikan tungkai diatas ke tinggian jantung juga meningkatkan aliran vena. Beberapa ahli yakin bahwa penggunaan stoking elastic tidak di perlukan jika tungkai klien ditinggikan.

4.      Tindakan pencegahan

Pendekatan yang paling efektif dalam pencegahan emboli paru adalah mencegah terjadinya thrombosis vena profundus. Latihan tungkai aktif untuk menghindari stasis vena, ambulasi dini, dan penggunaan stoking elastic adalah preventif umum.

Klien yang berusia 40 tahun dan mengalami hemostasis adalah adekuat, dan mereka yang menjalani bedah mayor abdomen atau thorak elektif, sering diberikan heparin dosis rendah pasca operasi untuk mengurangi resiko thrombus vena profundus dan emboli paru pasca operasi. Dianjurkan bahwa heparin diberikan secara sub kutan 2 jam sebelum operasi dan dilanjutkan setiap 8-12 jam sampai klien di pulangkan.

Heparin dosis rendah dianggap dapat meningkatkan aktivitas antitrombin 3III, suatu inhibitor plasma utama dari faktor x pembekuan. Koumadin juga dapat digunakan secara profilaksis praoperasi untuk mencegah terjadinya tromboembolisme.

Alat kompresi tungkai intermiten sangat bermanfaat dalam mencegah tromboemboli. Alat tersebut mengembangkan kantung yang secara mekanis menekan tungkai dari betis ke paha dan meningkatkan arus balik ke vena. Alat ini dapat di pasang pasca operatif dan diteruskan sampai klien ambulsi.

5.      Intervensi bedah

Pada intervensi bedah embolektomi paru mungkin diindikasikan dalam kondisi jika klien mengalami hipotensi persistem, shok dan gawat nafas, jika tekanan arteri pulmonal sangat tinggi dan jika angiogram menunjukn obstruksi bagian besar pembuluh darah paru. Embolektomi pulmonary membutuhkan thorakotomi dengan teknik bypass jantung paru.

Mengintruksi vena kava inferior adalah teknik bedah lain yang di gunakan ketika embolisme paru kambuh. Pendekatan ini mencegah thrombus yang lepas untuk tersapu kedalam paru agar aliran darah mengalir secara adekuat. Prosedur dapat di lakukan dengan meligasi total vena kava atau memasang klep Teflon pada vena kava untuk membagi lumen vena kava menjadi saluran-sluran yang keciltanpa menyumbat aliran darah kava.





6.      Intervensi kegawatdaruratan

a.       Oksigen nasal di berikan dengan segera unuk menghilangkan hipoksemia, distress pernapasan, dan sianosis,

b.      Infuse intravena di mulai dengan membuat rute untuk obat atau cairan yang akan di perlukan

c.       Di lakukan angioparu, tindakan-tindakan hemodinamik, penentuan gas darah arteri, dan pemindaian perkusi paru. Peningkatan tahanan paru mendadak meningkatkan kerja ventrikel kanan sehingga dapat menyebabkan gagal jantung akut sebelah kanan akibat syok kardiogenik.

d.      Jika klien menderita akibat emboliisme massif dan hipotensif, perlu di pasang kateter Indweling untuk memantau output urin.

e.       Hipotensi diatasi dengan infuse lambat dobutamin (mempunyai efek mendilatasi pembuluh pulmonal dan bronki) atau dopamine.

f.       Hasil EKG di pantau secara continue untuk mengetahui gagal ventrikel kanan yang dapat terjadi secara mendadak.

g.      Glikosidadigitalis, deuretik intravena dan agen anti disripnia di berikan bila di butuhkan

h.      Darah di ambil untuk pemeriksaan elektrolit serum, nitrogen urea darah, hitung darah lengkap, dan hematokrit.

i.        Morfin intravena dosis kecil di berikan untuk menghilangkan kecemasan klien,menyingkirkan ketidaknyamanan di dada, untuk memperbaiki toleransi selang endotrakea dan memudahkan adaptasi terhadap ventilator mekanik.



E.     PENGKAJIAN ATELEKTAKSIS

1.      Pengkajian Primer

a.       Airway

1)      Apakah pasien berbicara dan bernafas secara bebas

2)      Terjadi penurunan kesadaran

3)      Suara nafas abnormal wheezing mengi dll

4)      Penggunaan otot-otot bantu pernafasan

5)      Gelisah

6)      Sianosis

7)      Kejang



8)      Retensi lendir

9)      Suara serak

10)  Batuk

b.      Breathing

1)      Adakah suara abnormal wheexing mengi dll

2)      Sianosis

3)      Takipneu

4)      Dispnea

5)      Hipoksia

6)      Panjang pendeknya inspirasi ekspirasi

c.       Circulation

1)      hipotensi / hipertensi

2)      takipnu

3)      hipotermi

4)      pucat

5)      ekstermitas dingin

6)      penuruanan capillary refill

7)      produksi urine menurun

8)      nyeri

9)      pembesaran kelenjar getah bening

2.      Pengkajian sekunder

a.       Riwayat penyakit sekarang

1)      Alasan masuk rumah sakit

2)      Waktu kejadian hingga masuk rumah sakit

3)      Mekanisme atau biomekanik

4)      Lingkungan keluarga, kerja, masyarakat sekitar

b.      Riwayat penyakit dahulu

Perawatan yang pernah dialami

Penyakit lainnya antara lain DM, Hipertensi, PJK dll

c.       Riwayat penyakit keluarga

Penyakit yang diderita oleh anggota keluarga

d.      Pengkajian head to toe

1)      Pengkajian kepala leher wajah

2)      Pengkajian dada

3)      Pengkajian abdomen dan pelvis

4)      Pengkajian extremitas



F.      DIAGNOSA

1.      Gangguan pertukaran gas b.d ventilasi dan perfusi tidak seimbang

2.      Ketidakefektifan pola nafas b.d pola nafas cepat dan dangkal

3.      Ketidakafektifan bersihan jalan nafas b.d akumulasi mukus pada bronkus

4.      Gangguan perfusi jaringan b.d oksigen jaringan menurun;sianosis



G.    Nursing Care Plane

No
Diagnosa keperawatan
Tujuan/kriteria hasil
Intervensi
1
Gangguan pertukaran gas b.d ventilasi dan perfusi tidak seimbang
tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam pasien menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan
kriteria hasil:
pertukaran gas dapat dipertahankan
Mandiri
kajifrekuensi kedalaman pernafasan .
R/untuk mengevaluasi derajat distres pernafasan pernafasan atau proses penyakit .
tinggikan kepala tempat tidur bantu pasien memilih posisi yang mudah untuk bernafas.dorong pasien untuk penafasan dalam atau nafas bibir.
R/pengiriman oksigen dapat di perbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas  untuk menurunkan kolaps jalan nafas.
Auskultasi bunyi nafas,cacat area penurunan aliran udara /bunyi tambahan ,(ronki,mengi,redup).
R/bunyi nafas mungkin redup karena penurunan aliran udara,adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus.
Palpasi fremitus (getaran vibrasi pada saat palpasi)
R/penurunan getaran fibrasi diduga ada pengumpulan cairan.
Evaluasi tingkat toleransi aktivitas.
R/selama distres pernafasan berat/akut ,pasien secara total tidak mampu melakukan aktivitas sehari – hari
Awasi tanda – tanda vital dan irama jantung.
R/takikardia dan perubahan tekanan darah yang dapat menunjukan adanya hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.
Kolaborasi
Awasi /gambaran seri GDA dan nadi
R/PaCO2 biasanya meningkat (bronchitis,emfisema)dan PaCO2 secara umum menurun ,sehingga terjadi hipoksia .
Berika oksigen tambahan sesuai degan indikasi hasil GDA dan  toleransi pasien.
R/memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia
Bantu intubasi ,berikan /pertahankan ventilasi mekanik
R/terjadinya kegagalan nafas yang akan datang memerlukan upaya penyelamatan hidup.
2
Ketidakefektifan pola nafas
Pola nafas kembali efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 × 24 jam, dengan kriteria hasil:
-    Tidak terjadi hipoksia atau hipoksemia
-    Tidak sesak
-    RR normal (16-20 × / menit)
-    Tidak terdapat kontraksi otot bantu nafas
Tidak terdapat sianosis
1. Berikan HE pada pasien tentang penyakitnya
R/ Informasi yang adekuat dapat membawa pasien lebih kooperatif dalam memberikan terapi
2. Atur posisi semi fowler
R/ Jalan nafas yang longgar dan tidak ada sumbatan proses respirasi dapat berjalan dengan lancar.
3. Observasi tanda dan gejala sianosis
R/ Sianosis merupakan salah satu tanda manifestasi ketidakadekuatan suply O2 pada jaringan tubuh perifer

4. Berikan terapi oksigenasi
R/ Pemberian oksigen secara adequat dapat mensuplai dan memberikan cadangan oksigen, sehingga mencegah terjadinya hipoksia.

5. Observasi tanda-tanda vital
R/ Dyspneu, sianosis merupakan tanda terjadinya gangguan nafas disertai dengan kerja jantung yang menurun timbul takikardia dan capilary refill time yang memanjang/lama.

6. Observasi timbulnya gagal nafas.
R/ Ketidakmampuan tubuh dalam proses respirasi diperlukan intervensi yang kritis dengan menggunakan alat bantu pernafasan (mekanical ventilation).
7. Kolaborasi dengan tim medis dalam memberikan pengobatan
R/ Pengobatan yang diberikan berdasar indikasi sangat membantu dalam proses terapi keperawatan
3
Ketidakafektifan bersihan jalan nafas b.d akumulasi mukus pada bronkus

Tujuan :
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam pasien menunjukan perilaku mencapai bersihan jalan nafas.
kriteria hasil:
Klien dapat mempertahankan jalan nafas secara efektif
Mandiri
auskultasi bunyi nafas.catat adanya bunyi nafas ,misal: mengi ,ronki.
R/beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obtruksi jalan nafas dan terdapat nafas adventisius.
kaji frekwensi kedalaman  pernafasan dan gerakan dada
R/pernafasan dangkal dan gerakan dada tidak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan  gerakan dinding dada/cairan paru.
   berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari ,kecuali kontra indikasi,tawarkan air hangat.
R/cairan (khususnya air hangat)memobilisasi
observasi warna kulit,membran mukosa,dan kuku
R/sianosis kuku menunjukan adanya vasokontruksi,sianosis membram mukosa dan kulit sekitar  mulut menunjukan hipoksemia sistemik
Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi
  bronkodilator,mis :egonis :epinefrin (adrenalin ,vaponefrin ) Xantin ,mis:aminofilin ,oxtrifilin.
 R/merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti lokal
  berikan humidikasi tambahan,mis:nebulizer ultranik,humidifier aerosol    ruangan
R/kelembaban menurunkan kekentalan sekret dan mempermudah      pengeluaran  secret.
  berikan pengobatan pernafasan ,mis ;fisioterapi dada
R/drainase postural dan perkusi bagian penting untuk mengencerkan      secret.dan memperbaiki ventilasi pada segmen
4
Gangguan perfusi jaringan
Tujuan: selama dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi penurunan perfusi jaringan.
1.    Kaji adanya perubahan kesadaran.
2.    Inspeksi adanya pucat, cyanosis, kulit yang dingin dan penurunan kualitas nadi perifer.
3.    Kaji adanya tanda Hopmans (pain in calf on dorsoflextion), erythema, edema.
4.    Kaji respirasi (irama, kedalam dan usaha pernafasan).
5.    Kaji fungsi gastrointestinal (bising usus, abdominal distensi, constipasi).
6.    Monitor intake dan out put.
7.    Kolaborasi dalam: Pemeriksaan AGD (Analisa Gas Darah), BUN (Blad Urea Nitrogen), Serum ceratinin dan elektrolit.















EMBOLI PARU

A.    DEFINISI

Emboli paru adalah tersumbatnya jaring-jaring vaskuler oleh suatu embolus, yang dapat berupa thrombus, trauma jaringan, lipid atau gelembung udara (Nilu Gede Yasmin, 2004).

Emboli paru merupakan keadaan obstruksi pada satu atau lebih aeteri pulmonal oleh thrombus yang berasal dari suatu tempat dalam system vena atau pada jantung sebelah kanan.  Embolisme paru adalah gangguan umum dan sering berkaitan dengan trauma, bedah (ortopedi, pelvis, ginekologi), kehamilan, gagal jantung kongestis, usia lanjut lebih dari 60 tahun dan imobilisasi berkepanjangan. Embolisme paru juga dapat terjadi pada individu yang tampaknya sehat(Arif Muttakin,2014).



B.     ANATOMI DAN FISIOLOGI



Description: Hasil gambar untuk ANFIS PARU-PARU





Anantomi fisiologi pernafasan atas

a.       Hidung

Hidung merupakan saluran udara yang pertama yang mempunyai dua lubang (kavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Didalamnya terdapat bulu – bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran yang masuk ke lubang hidung.

b.      Sinus paranasal

Terdiri dari sinus frontalis, etmoidalis, sphenoidalis dan maxillaris yang bermuara di rongga hidung. Sinus paranasal ini berfungsi untuk membantu menghangatkan dan humidifikasi, meringankan berat tulang tengkorak, dan mengatur bunyi suara dengan ruang – ruang resonansi.

c.       Faring

Faring / tekak merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan, terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Faring berfungi untuk menelan dan respirasi.



Anatomi fisiologi pernafasan bawah

a.       Laring

Laring atau pangkal tenggorok merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara, terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk kedalam trakea dibawahnya. Pangkal tenggorok itu dapat ditutup oleh sebuah empeng tenggorok yang disebut epiglotis yang terdiri dari tulang – tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan makanan menutupi laring. Laring berfungsi untuk pembentukan suara.

b.      Trakea

Trakea atau batang tenggorok merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 – 20 cincin yang terdiri dari tulang – tulang grawan yang terbentuk seperti kuku kuda. Terdapat sel bersillia yang berfungsi untuk mengeluarkan benda – benda asing yang masuk bersama – sama dengan udara pernafasan.



c.       Bronkus

Bronkus atau cabang tenggorok merupakan lanjutan dari trakea, mempunyaistruktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis set yang sama. Bronkus kanan lebih pendek dari bronkus kiri terdiri 6 – 8 cincin, mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari kanan terdiri dari 9 – 12 cincin mempunyai 2 cabang.



Description: Hasil gambar untuk ANFIS PARU-PARU



d.      Paru-paru

Paru-paru adalah organ elastik yang berbentuk piramid seperti spons dan berisi udara, terletak di dalam rongga toraks.  Setiap paru  dibagi menjadi lobus-lobus.  Paru kiri dibagi menjadi 2 lobus, sementara paru kanan mempunyai 3 lobus.

Bagian terluar paru dikelilingi oleh membran halus, licin yaitu pleura, yang juga meluas untuk membungkus dinding interior toraks dan permukaan superior diafragma.  Pleura perietalis melapisi toraks dan pleura viseralis melapisi paru-paru.  Antara kedua pleura ini terdapat ruang yang disebut spasium pleura, yang mengandung sejumlah kecil cairan yang melicinkan permukaan dan memungkinkan keduanya bergeser dengan bebas selama ventilasi.

Bronkus dan bronkiolus, terdapat beberapa deviasi bronkus di dalam setiap lobus paru.  Pertama adalah bronkus lobaris (tiga pada paru kanan dan dua pada paru kiri).  Bronkus lobaris dibagi menjadi bronkus sigmental yang merupakan struktur  yang dicari ketika memilih posisi drainase postural yang paling efektif untuk pasien tertentu.  Bronkus segmental kemudian dibagi lagi menjadi bronkus subsigmental, bronkus ini dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki arteri, limfatik dan saraf.  Bronkus segmental kemudian membentuk percabangan menjadi bronkiolus, selanjutnya terus bercabang membentuk bronkiolus terminal, bronkiolus respiratori, duktus alveolar dan alveoli.  Tidak ada kartilago dalam bronkiolus, silia masih ada sampai bronkiolus respiratorik terkecil.

Alveoli, paru terbentuk oleh sekitar 300 juta alveoli, yang tersusun dalam kluster antara 15 sampai 20 alveoli.  Terdapat tiga jenis sel-sel alveolar, sel-sel alveolar tipe I adalah sel epitel yang membentuk dinding alveolar.  Sel-sel alveolar tipe II, sel-sel yang aktif secara metabolik, mensekresi surfaktan (suatu fosfolipid) yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps.  Sel alveolar III adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagositis yang besar yang memakan benda asing (misal: lendir, bakteri) dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan yang penting).

Paru-paru terletak dikedua sisi jantung dalam rongga dada dan dikelilingi serta dilindungi oleh sangkar iga. Bagian dasar setiap paru terletak diatas diafragma; bagian apeks paru (ujung superior) terletak setinggi klavikula. Pada permukaan tengah dari setiap paru terdapat identasi yang disebut hilus, tempat bronkus primer dan masuknya arteri serta vena pulmonary ke dalam paru. Bagian kanan dan kiri paru terdiri atas percabangan saluran yang membentuk pohon bronchial, jutaan alveoli dan jarring-jaring kapilernya, dan jaringan ikat. Sebagai organ, fungsi paru adalah tempat terjadinya pertukaran gas antara udara atmosfir dan udara dalam aliran darah.

Setiap paru dibagi menjadi kompartemen yang lebih kecil. Pembagian pertama disebut lobus. Paru kanan terdiri atas tiga lobus dan lebih besar dari kiri yang hanya terdiri atas dua lobus. Lapisan yang membatasi antara lobus disebut fisura. Setiap lobus dipasok oleh cabang utama percabangan bronchial dan diselaputi oleh jaringan ikat.

Lobus kemudian membagi lagi menjadi kompartemen yang lebih kecil dan dikenal sebagai segmen. Setiap segmen terdiri atas banyak lobules, yang masing-masing mempunyai bronchiole, arteriole, venula, dan pembuluh limfatik.

Dua lapis membrane serosa mengelilingi setiap paru dan disebut sebagai pleurae. Lapisan terluar disebut pleura parietal yang melapisi dinding dada dan mediastinum. Lapisan dalamnya disebut pleura visceral yang mengelilingi paru dan dengan kuat melekat pada permukaan luarnya. Rongga pleural ini mengandung cairan yang dihasilkan oleh sel-sel serosa didalam pleura. Cairan pleural melicinkan permukaan kedua membrane pleura untuk mengurangi gesekan ketika paru-paru mengembang dan berkontraksi selama bernapas. Jika cairan yang dihasilkan berkurang atau membrane pleura membengkak, akan terjadi suatu kondisi yang disebut pleurisi dan terasa sangat nyeri karena membrane pleural saling bergesekan satu sama lain ketika bernapas.



C.     PATOFISIOLOGI





Rounded Rectangle: Trombosit
Rounded Rectangle: Tromboplastin
Rounded Rectangle: Thrombin































































D.    PENATALAKSANAAN

Tujuan pengobatan adalah menghancurkan atau (lisis) emboli yang ada dan mencegah pembentukan yang baru. Pengobatan embolisme paru dapat mencakup beragam modalitas seperti terapi antikoagulan, terapi trombolitik, tindakan umum untuk meningkatan status pernapasan dan vascular, dan intervensi bedah.

1.      Terapi anti koagulan ( Heparin, Natrium, dan Warfarin)

Telah menjadi metode primer secara tradisional untuk mengatasi trmbosit vena provundus akut dan embolisme paru. Heparin digunakan untuk mencegah kekambuhan emboli tetapi tidak mempunyai efek pada emboli yang sudah ada sebelumnya. Heparin diberikan dalam bolus intravena 5000 unit diikuti dengan infus kontinu 10.000 unit/ jam. Tujuannya untuk mempertahankan masa troboplastin parsial (PTT) 1,5-2 kali nilai normal. Heparin diberikan 5-7 hari. Pemberian komadin dimulai dalam 24 jam setelah dimulainya terapi  heparin dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Masa protombin dipertahankan pada 1,5 kali nilai normal. Terapi antikoagulan dikontraindikasikan pada klien yang beresiko mengalami perdarahan.

2.      Terapi Trombolitik

Terapi trombolitik mungkin juga digunakan dalam mengatasi embolisme paru terutama pada klien yang sangat terganggu, terapi trombolitik menghancurkan thrombus atau emboli lebih cepat dan memulihkan fungsi hemodinamik sirkulasi paru lebih besar, karenanya menggurangi hupertensi paru dan memperbaiki perfusi, oksigenasi dan curah jantung. namun perdarahan merupakan efek samping yang signifikan. Akibatnya preparatrombolitik disarankan pada klien dengan thrombus yang mengenai vena popliteal atau vena profundus femur dan pelvis, dan untuk klien dengan embolisme paru massif yang mengenai area signifikan aliran darah ke paru.

3.      Tindakan umum untuk meningkatkan status pernapasan dan vaskuler

Tindakan lain dilakukan untuk memperbaiki status pernapasan dan vascular klien. Terapi oksigen diberikan untuk memperbaiki hipoksia dan menghilangkan vasokontriksi vaskuler paru serta mengurangi hipertensi paru stasis vena dikurangi dengan menggunakan stoking elastic atau alat kompresi tungkai intermiten. Tindakan ini menekan vena superficial dan meningkatkan kecepatan darah dalam vena profunda dengan mengarahkan kembali darah melalui vena profunda. Dengan demikian stasis vena dikurangi. Meninggikan tungkai diatas ke tinggian jantung juga meningkatkan aliran vena. Beberapa ahli yakin bahwa penggunaan stoking elastic tidak di perlukan jika tungkai klien ditinggikan.

4.      Tindakan pencegahan

Pendekatan yang paling efektif dalam pencegahan emboli paru adalah mencegah terjadinya thrombosis vena profundus. Latihan tungkai aktif untuk menghindari stasis vena, ambulasi dini, dan penggunaan stoking elastic adalah preventif umum.

Klien yang berusia 40 tahun dan mengalami hemostasis adalah adekuat, dan mereka yang menjalani bedah mayor abdomen atau thorak elektif, sering diberikan heparin dosis rendah pasca operasi untuk mengurangi resiko thrombus vena profundus dan emboli paru pasca operasi. Dianjurkan bahwa heparin diberikan secara sub kutan 2 jam sebelum operasi dan dilanjutkan setiap 8-12 jam sampai klien di pulangkan.

Heparin dosis rendah dianggap dapat meningkatkan aktivitas antitrombin 3III, suatu inhibitor plasma utama dari faktor x pembekuan. Koumadin juga dapat digunakan secara profilaksis praoperasi untuk mencegah terjadinya tromboembolisme.

Alat kompresi tungkai intermiten sangat bermanfaat dalam mencegah tromboemboli. Alat tersebut mengembangkan kantung yang secara mekanis menekan tungkai dari betis ke paha dan meningkatkan arus balik ke vena. Alat ini dapat di pasang pasca operatif dan diteruskan sampai klien ambulsi.

5.      Intervensi bedah

Pada intervensi bedah embolektomi paru mungkin diindikasikan dalam kondisi jika klien mengalami hipotensi persistem, shok dan gawat nafas, jika tekanan arteri pulmonal sangat tinggi dan jika angiogram menunjukn obstruksi bagian besar pembuluh darah paru. Embolektomi pulmonary membutuhkan thorakotomi dengan teknik bypass jantung paru.

Mengintruksi vena kava inferior adalah teknik bedah lain yang di gunakan ketika embolisme paru kambuh. Pendekatan ini mencegah thrombus yang lepas untuk tersapu kedalam paru agar aliran darah mengalir secara adekuat. Prosedur dapat di lakukan dengan meligasi total vena kava atau memasang klep Teflon pada vena kava untuk membagi lumen vena kava menjadi saluran-sluran yang keciltanpa menyumbat aliran darah kava.

6.      Intervensi kegawatdaruratan

a.       Oksigen nasal di berikan dengan segera unuk menghilangkan hipoksemia, distress pernapasan, dan sianosis,

b.      Infuse intravena di mulai dengan membuat rute untuk obat atau cairan yang akan di perlukan

c.       Di lakukan angioparu, tindakan-tindakan hemodinamik, penentuan gas darah arteri, dan pemindaian perkusi paru. Peningkatan tahanan paru mendadak meningkatkan kerja ventrikel kanan sehingga dapat menyebabkan gagal jantung akut sebelah kanan akibat syok kardiogenik.

d.      Jika klien menderita akibat emboliisme massif dan hipotensif, perlu di pasang kateter Indweling untuk memantau output urin.

e.       Hipotensi diatasi dengan infuse lambat dobutamin (mempunyai efek mendilatasi pembuluh pulmonal dan bronki) atau dopamine.

f.       Hasil EKG di pantau secara continue untuk mengetahui gagal ventrikel kanan yang dapat terjadi secara mendadak.

g.      Glikosidadigitalis, deuretik intravena dan agen anti disripnia di berikan bila di butuhkan

h.      Darah di ambil untuk pemeriksaan elektrolit serum, nitrogen urea darah, hitung darah lengkap, dan hematokrit.

i.        Morfin intravena dosis kecil di berikan untuk menghilangkan kecemasan klien,menyingkirkan ketidaknyamanan di dada, untuk memperbaiki toleransi selang endotrakea dan memudahkan adaptasi terhadap ventilator mekanik.

E.     PENGKAJIAN EMBOLI PARU

1.      Pengkajian Sekunder

a.       Airway

1)      Apakah pasien berbicara dan bernafas secara bebas

2)      Terjadi penurunan kesadaran

3)      Suara nafas abnormal wheezing mengi dll

4)      Penggunaan otot-otot bantu pernafasan

5)      Gelisah

6)      Sianosis

7)      Kejang

8)      Retensi lender

9)      Suara serak

10)  Batuk

b.      Breathing

1)      Adakah suara abnormal wheexing mengi dll

2)      Sianosis

3)      Takipneu

4)      Dispnea

5)      Hipoksia

6)      Panjang pendeknya inspirasi ekspirasi

c.       Circulation

1)      hipotensi / hipertensi

2)      takipnu

3)      hipotermi

4)      pucat

5)      ekstermitas dingin

6)      penuruanan capillary refill

7)      produksi urine menurun

8)      nyeri

9)       pembesaran kelenjar getah bening

2.      Pengkajian sekunder

a.       Riwayat penyakit sekarang

1)      Alasan masuk rumah sakit

2)      Waktu kejadian hingga masuk rumah sakit

3)      Mekanisme atau biomekanik

4)      Lingkungan keluarga, kerja, masyarakat sekitar

b.      Riwayat penyakit dahulu

c.       Perawatan yang pernah dialami

Penyakit lainnya antara lain DM, Hipertensi, PJK dll

d.      Riwayat penyakit keluarga

Penyakit yang diderita oleh anggota keluarga





F.      DIAGNOSA

1.      Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah ke alveoli atau sebagian besar paru-paru

2.      Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi trakeo bronkhial oleh bekuan darah, sekret banyak, perdarahan aktif.

3.      Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penghentian aliran darah arteri atau vena



No
Diagnosa
Tujuan dan Kriteria hasil
Intervensi
1.
Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah ke alveoli atau sebagian besar paru-paru

Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama...x24 jam,
kerusakan pertukaran gas dapat
teratasi dengan kriteria hasil :
a. Menunjukkan peningkatan
ventilasi dan oksigenasi yang
adekuat
b. AGD dalam batas normal
c. Tanda-tanda vital dalam
rentang normal.

1. Berikan oksigen
2. Catat frekuensi dan kedalaman pernapasan, penggunaan obat
bantu, nafas bibir.
3. Lakukan tindakan untuk memperbaiki atau
mempertahankan jalan nafas, misalnya dengan batuk efektif
atau suction
4. Auskultasi suara nafas, catat adanya penurunan
adanya bunyi nafas, dan adanya
bunyi tambahan
1.      Observasi sianosis khususnya pada membaran muk

2
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi trakeo bronkhial oleh bekuan darah, sekret banyak, perdarahan aktif
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama...x24 jam,
pola nafas tidak efektif dapat
teratasi dengan kriteria hasil :
a. Mendemonstrasika batuk
efektif dan suara nafas yang
bersih, tidak ada sianosis dan
dipsneu
b. Menunjukkan jalan nafas yang
paten (frekuensi pernafasan
dalam batass normal dan tidak
ada suara nafas abnormal
c. TTV dalam batas normal
1. Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.
2. Auskultasi suara nafas dan catat adanya bunyi nafas adventisius seperti, krekels, mengi, gesekan
pleural.
3. Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
4. Koordinasi/kerjasama dengan petugas kesehatan lain untuk pemberian obat

3.
Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penghentian aliran darah arteri atau vena

Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama...x24 jam,
ketidakefektifan perfusi jaringan
kardio pulmonal teratasi dengan
kriteria hasil :
a. Nadi perifer kuat dan simetris
b. Denyut jantung, AGDdalam
batas normal
c. Nyeri dada tidak ada

1.Auskultasi suara jantung dan paru.
2. Observasi warna dan suhu kulit atau suhu kulit atau membran mukosa.
3. Koordinasi/kerjasama dengan petugas kesehatan lain untuk pemberian obat antikoagulan.
4. Evaluasi ekstremitas untuk adanya/tidak ada atau kulitas nadi. Catat nyeri tekan betis atau
pembengkakan.




D. Evaluasi



1.      Pasien menunjukkan ventilasi yang adekuat atau oksigenasi dengan GDA dalam rentang normal.

2.      Pasien menunjukkan pola nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam rentang normal dan paru bersih.

3.      Pasien menunjukkan peningkatan perfusi yang sesuai secara individual, irama jantung dan nadi perifer dalam batas normal, tidak adanya sianosis kulit hangat atau kering, haluaran urin dan berat jenis dalam batas norma.































































DAFTAR PUSTAKA

Efendy, Christiantie. 2004. Keperawatan Medikal Bedah Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. EGC: Jakarta.

Mills, John. 1993. Gawat Darurat Paru-Paru. EGC: Jakarta.

Muttakin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Pernapasan. Salemba Medika: Jakarta.

Soemantri, Irman. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Pernapasan. Salemba Medika: Jakarta.

Tabrani. 1982. Prinsip Gawat Paru ( The Principle of Respiratory Emergency). EGC: Jakarta.






No comments:

Post a Comment