Monday, 7 November 2016

makalah tension pneumothorakh


BAB I

PENDAHULAUN



A.    Latar Belakang

Sistem pernafasan merupakan salah satu organ terpenting dari bagian tubuh manusia setelah kardiovaskuler, sehingga bila terjadi gangguan sistem pernafasan akan mempengaruhi semua organ yang lain yang akan mengganggu pada aktivitas manusia.

Seiring dengan kemajuan zaman, semakin banyaknya transportasi dan pola hidup yang kurang baik dapat menjadi suatu masalah kesehatan jiwa, salah satunya yaitu gangguan sistem pernafasan yang serius dan membahayakan jiwa, keadaan ini akan menimbulkan berbagai penyakit primer yang mengenai sistem bronkopulmoner seperti hemoptisis masif, pneumotorak ventil status asmatikus dan pneumotorak berat. Sedangkan gangguan fungsi paru yang sekunder terhadap gangguan organ lain seperti keracunan obat yang menimbulkan depresi pusat pernafasan. Di Amerika didapatkan 180.000 orang meninggal akibat gangguan fungsi paru seperti trauma thorak, baik karena trauma thorak langsung maupun tidak langsung. Trauma torak dapat mengakibatkan terjadinya robekan pada pleura dimana dengan adanya robekan ini dapat menjadi celah masuknya udara ke dalam rongga tersebut sehingga menjadi Pneumotoraks. Dari pneumotoraks ini dapat menjadi tension pneumotoraks jika tidak ditangani dengan baik.

Tension Pneumotoraks merupakan medical emergency dimana akumulasi udara dalam rongga pleura akan bertambah setiap kali bernapas. Peningkatan tekanan intratoraks mengakibatkan bergesernya organ mediastinum secara masif ke arah berlawanan dari sisi paru yang mengalami tekanan. (Alagaff, Hood, 2005)

Insidensi dari tension pneumotoraks di luar rumah sakit tidak mungkin dapat ditentukan. Revisi oleh Department of Transportation (DOT) Emergency Medical Treatment (EMT) Paramedic Curriculum menyarankan tindakan dekompresi jarum segera pada dada pasien yang menunjukan tanda serta gejala yang non-spesifik. Sekitar 10-30% pasien yang dirujuk ke pusat trauma tingkat 1 di Amerika Serikat menerima tindakan pra rumah sakit berupa dekompresi jarum torakostomi, meskipun pada jumlah tersebut tidak semua pasien menderita kondisi tension pneumotoraks.









B.     Rumusan Masalah

1.      Apa definisi dari tension pneumothorak?

2.      Apa anatomi fisiologi yang berhubungan pada tension pneumothorak?

3.      Apa etiologi dan faktor risiko tension pneumothorak?

4.      Bagaimana patofisiologi tension pneumothorak?

5.      Apa klasifikasi tension pneumothorak?

6.      Apa manifestasi klinis tension pneumothorak?

7.      Apa saja pemeriksaan diagnostic yang dilakukan pada pasien tension pneumothorak?

8.      Apa penatalaksanaan pada tension pneumothorak?

9.      Apa komplikasi tension pneumothorak?

10.  Bagaimana prognosis tension pneumothorak?

11.  Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien tension pneumothorak?



C.    Tujuan

1.      Mengetahui definisi dari tension pneumothorak.

2.      Mengetahui anatomi fisiologi yang berhubungan pada tension pneumothorak.

3.      Mengetahui etiologi dan faktor risiko tension pneumothorak.

4.      Mengetahui patofisiologi tension pneumothorak.

5.      Mengetahui klasifikasi tension pneumothorak.

6.      Mengetahui manifestasi klinis tension pneumothorak.

7.      Mengetahui pemeriksaan diagnostic yang dilakukan pada pasien tension pneumothorak.

8.      Mengetahui penatalaksanaan pada tension pneumothorak.

9.      Mengetahui komplikasi tension pneumothorak.

10.  Mengetahui prognosis tension pneumothorak.

11.  Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien tension pneumothorak.















BAB II

TINJAUAN TEORI



A. Definisi

Tension pneumotoraks adalah bertambahnya udara dalam ruang pleura secara progresif, biasanya karena laserasi paru-paru yang memungkinkan udara untuk masuk ke dalam rongga pleura tetapi tidak dapat keluar atau tertahan didalam rongga pleura.

Tension Pneumotoraks merupakan medical emergency dimana akumulasi udara dalam rongga pleura akan bertambah setiap kali bernapas. Peningkatan tekanan intratoraks mengakibatkan bergesernya organ mediastinum secara masif ke arah berlawanan dari sisi paru yang mengalami tekanan. (Alagaff, Hood, 2005)

Tension Pneumotoraks merupakan medical emergency dimana akumulasi udara dalam rongga pleura akan bertambah setiap kali bernapas. Peningkatan tekanan intratoraks mengakibatkan bergesernya organ mediastinum secara masif ke arah berlawanan dari sisi paru yang mengalami tekanan (Manjoer, 2000).



B.     Anatomi Fisiologi

·         Paru Kanan

Paru kanan sedikit lebih besar dari paru kiri,dan di bagi oleh fissure bliqua dan fissure horisontalis menjadi tiga lobus. Lobus superior,lobus medius,dan lobus inferior. Fisura obliqua berjalan dari pinggir inferior ke atas dan belakang menyilang permukaan medial dan costalis sampai memotong pinggir posterior. Fissura  horinzontal menyilang permukaan costalis dan bertemu dengan fissure obliqua. Lobus medius merupakan lbus kecil berbentuk segitiga yang di batasi oleh fissura horizontalis dan obliqua.

·         Paru kiri

Paru kiri di bagi oleh satu fissura (fissura obliqua) menjadi dua lobus. Lobus superior dan lobus inferior.



1.      Dinding Thorak

Dinding thorax terdiri atas kulit, fascia, saraf, otot, dan tulang. Kerangka dinding thorax membentuk sangkar dada osteokartilaginous yang melindungi jantung, paru-paru, dan beberapa organ rongga abdomen. Kerangka thorax terdiri dari vertebra thoracica dan discus intervertebralis, costae dan cartilago costalis, serta sternum. Beberapa otot pernafasan yang melekat pada dinding dada antara
lain:

a.       Otot-otot inspirasi : M. intercostalis externus, M. levator costae, M. Serratus posterior superior, dan M.scalenus.

b.      Otot-otot ekspirasi : M. intercostalis internus, M. transversus thoracis, M. serratus posterior inferior, M. subcostalis.

2.      Traktus Respiratorius

Traktus respiratorius dibedakan menjadi dua, yaitu traktus respiratorius bagian atas dan bagian bawah. Traktus respiratorius bagian atas terdiri dari cavum nasi, nasofaring, hingga orofaring. Sementara itu, traktus respiratorius bagian bawah terdiri atas laring, trachea, bronchus (primarius, sekundus, dan tertius), bronchiolus, bronchiolus respiratorius, ductus alveolaris, dan alveolus. Paru-paru kanan terdiri atas 3 lobus (superior, anterior, inferior), sementara paru-paru kiri terdiri atas 2 lobus (superior dan inferior). Masing-masing paru diliputi oleh sebuah kantung pleura yang terdiri dari dua selaput serosa yang disebut pleura, yaitu pleura parietalis dan visceralis. Pleura visceralis meliputi paru-paru termasuk permukaannya dalam fisuran sementara pleura parietalis melekat pada dinding thorax, mediastinum dan diafragma. Kavum pleura merupakan ruang potensial antara kedua lapis pleura dan berisi sedikit cairan pleura yang berfungsi melumasi permukaan pleura sehingga memungkinkan gesekan kedua lapisan tersebut pada saat pernafasan.

Fisiologi

1.      Pembuluh Darah Paru

Bronchus,jaringan ikat paru,dan pleura viseralis menerima darah dari arteri bronchialis,yang merupakan cabang dari aorta descendes. Vena bronchial mengalirkan darahnya ke vena.

Alveoli menerima darah teroksigenasi dari cabang-cabang terminal arteri pulmonalis. Darah yang mengalami oksigenasi meninggalkan kapiler alveoli dan akhirnya bermuara ke dalam ke dua vena pulmonalis. Dua vena pulmonalis meninggalkan radix pulmonalis masing-masing paru untuk bermuara ke dalam atrium jantung. 

2.      Proses inspirasi jika tekanan paru lebih kecil dari tekanan atmosfer. Tekanan paru dapat lebih kecil jika volumenya diperbesar. Membesarnya volume paru diakibatkan oleh pembesaran rongga dada. Pembesaran rongga dada terjadi akibat 2 faktor, yaitu faktor thoracal dan abdominal. Faktor thoracal (gerakan otot-otot pernafasan pada dinding dada) akan memperbesar rongga dada ke arah transversal dan anterosuperior, sementara faktor abdominal (kontraksi diafragma) akan memperbesar diameter vertikal rongga dada. Akibat membesarnya rongga dada dan tekanan negatif pada kavum pleura, paru-paru menjadi terhisap sehingga mengembang dan volumenya membesar, tekanan intrapulmoner pun menurun. Oleh karena itu, udara yang kaya O2 akan bergerak dari lingkungan luar ke alveolus. Di alveolus, O2 akan berdifusi masuk ke kapiler sementara CO2 akan berdifusi dari kapiler ke alveolus. Sebaliknya, proses ekspirasi terjadi bila tekanan intrapulmonal lebih besar dari tekanan atmosfer. Kerja otot-otot ekspirasi dan relaksasi diafragma akan mengakibatkan rongga dada kembali ke ukuran semula sehingga tekanan pada kavum pleura menjadi lebih positif dan mendesak paru-paru. Akibatnya, tekanan intrapulmoner akan meningkat sehingga udara yang kaya CO2 akan keluar dari peru-paru ke atmosfer. (Martin.2000).



C.    Etiologi

Etiologi Tension Pneumotoraks yang paling sering terjadi adalah karena iatrogenik atau berhubungan dengan trauma yaitu, sebagai berikut:

·      Trauma benda tumpul atau tajam, meliputi gangguan salah satu pleura visceral atau parietal dan sering dengan patah tulang rusuk (patah tulang rusuk tidak menjadi hal yang penting bagi terjadinya Tension Pneumotoraks)

·      Pemasangan kateter vena sentral (ke dalam pembuluh darah pusat), biasanya vena subclavia atau vena jugular interna (salah arah kateter subklavia).

·      Komplikasi ventilator, pneumothoraks spontan, Pneumotoraks sederhana ke Tension Pneumotoraks

·      Ketidakberhasilan mengatasi pneumothoraks terbuka ke pneumothoraks sederhana di mana fungsi pembalut luka sebagai 1-way katup.

·      Akupunktur, baru-baru ini telah dilaporkan mengakibatkan pneumothoraks (Corwin, 2009).









D.    Patofisiologi

Tension pneumotoraks terjadi ketika udara dalam rongga pleura memiliki tekanan yang lebih tinggi daripada udara dalam paru sebelahnya.Udara memasuki rongga pleura dari tempat ruptur pleura yang bekerja seperti katup satu arah. Udara dapat memasuki rongga pleura pada saat inspirasi tetapi tidak bisa keluar lagi karena tempat ruptur tersebut akan menutup pada saat ekspirasi.

Description: http://medschoolsurvival.files.wordpress.com/2012/09/tension-pneumothorax.jpg

Pada saat inspirasi akan terdapat lebih banyak udara lagi yang masuk dan tekanan udara mulai melampaui tekanan barometrik.Peningkatan tekanan udara akan mendorong paru yang dalam keadaan recoiling sehingga terjadi atelektasis kompresi.

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK0OJEvM4HMxn0bHiqzPnzX7Xo8PDDLxnxOGNdXHWvX0KzRAwFAi5x58ZIWurIz4NYBJq8ej3hRJl01L_4lJ9SfDwI4mK5VPWMLryZfB7tjeXTTPZqyn5QX7wI7H2b30vQF426YlGPy-w/s1600/TP1.jpg

Udara juga menekan mediastinum sehingga terjadi kompresi serta pergeseran jantung dan pembuluh darah besar. Udara tidak bisa keluar dan tekanan yang semakin meningkat akibat penumpukan udara ini menyebabkan kolaps paru.Ketika udara terus menumpuk dan tekanan intrapleura terus meningkat, mediastinum akan tergeser dari sisi yang terkena dan aliran balik vena menurun.Keadaan ini mendorong jantung, trakea, esofagus dan pembuluh darah besar berpindah ke sisi yang sehat sehingga terjadi penekanan pada jantung serta paru ke sisi kontralateral yang sehat (Sudoyo, 2009).

Dalam keadaan normal pleura parietal dan visceral seharusnya dapat dipertahankan tetap berkontak karena ada gabungan antara tekanan intraprgleura yang negative dan tarikan kapiler oleh sejumlah kecil cairan pleura. Ketika udara masuk ke ruang pleura factor-faktor ini akan hilang dan paru di sisi cedera mulai kolaps, dan oksigenasi menjadi terganggu. Jika lebih banyak udara yang memasuki ruang pleura pada saat inspirasi di bandingkan dengan yang keluar pada saat ekspirasi akan tercipta efek bola katup dan tekanan pleura terus meningkat sekalipun paru sudah kolaps total dan akhirnya tekanan ini menjadi demikian tinggi sehingga mendiastinum terdorong ke sisi berlawanan dan paru sebelah juga terkompresi dan dapat menyebabkan hipoksia yang berat dapat timbul dan ketika tekanan pleura meninggi dan kedua paru tertekan, aliran darah yang melalui sirkulasi sentral akan menurun secara signifikan yang mengakibatkan hipotensi arterial dan syok. (Kowalak, 2011).











































Terputusnya kontuinitas tulang dan jaringan
 
Trauma dada tertutup
 
Pathway

 












































Sumber : Sole, Mary L.2012, Suyono, 2001



E.     Manifestasi Klinis

1.      Manifestasi awal : nyeri dada, dispnea, ansietas, takipnea, takikardi, hipersonor dinding dada dan tidak ada suara napas pada sisi yang sakit.

2.      Manifestasi lanjut : tingkat kesadaran menurun, trachea bergeser menuju ke sisi kontralateral, hipotensi, pembesaran pembuluh darah leher/ vena jugularis (tidak ada jika pasien sangat hipotensi) dan sianosis (Boshwick, 1997).

3.      Terjadi sesak napas yang progresif dan berat.

4.      Terdapat kolaps dengan pulsus kecil dan hipotensi berat sebagai akibat gangguan pada jantung dan terhalangnya aliran balik vena ke jantung.

5.      Tanda-tanda pergesaran mediastinum jelas terlihat.

6.      Perkusi biasanya timpani, mungkin pula redup karena pengurangan getaran pada dinding toraks .

7.      Apabila pneumotoraks meluas, atau apabila yang terjadi adalah tension pneumothoraks dan udara menumpuk di ruang pleura, jantung dan pembuluh darah besar dapat bergeser ke paru yang sehat sehingga dada tampak asimetris (Corwin, 2009).



F.     Pemeriksaan Diagnostik

Diagnosa tension pneumothorax merupakan diagnosa  dari klinis, bukan dari radiologi. Tanda-tanda klasik dari tension pneumotoraks adalah adanya distress nafas, takikardi, hiporensi, adanya deviasi trakea, hilangnya suara nafas unilateral, distensi vena leher, dan bisa menjadi sianosis pada manifestasi lanjutnya. Gelaja klinis dari tension pneumothorax ini mungkin mirip dengan gejala klinis dari cardiac tamponade, tetapi angka kejadian tension pneumotorax ini lebih besar dari cardiac tamponade. Selain itu untuk membedakannya juga bisa dilakukan dengan mengetahui bahwa dari perkusi didapatkan adanya hiperresonansi pada bagian dada ipsilateral.

Pada pemeriksaan fisik thorak didapatkan :

1.      Inspeksi :

a.       Dapat terjadi pencembungan pada sisi yang sakit (hiper  ekspansi dinding dada)

b.         Pada waktu respirasi, bagian yang sakit gerakannya tertinggal

c.       Trakea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat

2.      Palpasi :

a.       Pada sisi yang sakit, ruang antar iga dapat normal atau melebar

b.      Iktus jantung terdorong ke sisi toraks yang sehat

c.       Fremitus suara melemah atau menghilang pada sisi yang sakit

3.      Perkusi :

a.       Suara ketok pada sisi sakit, hipersonor sampai timpani

b.      Batas jantung terdorong ke arah toraks yang sehat, apabila tekanan intrapleura tinggi

4.      Auskultasi :

a.    Pada bagian yang sakit, suara napas melemah sampai menghilang

Pada pemeriksaan penunjang, didapatkan pada:

1.      Foto Röntgen

Gambaran radiologis yang tampak pada foto röntgen kasus pneumotoraks antara lain:

a.       Bagian pneumotoraks akan tampak lusen, rata dan paru yang kolaps akan tampak garis yang merupakan tepi paru. Kadang-kadang paru yang kolaps tidak membentuk garis, akan tetapi berbentuk lobuler sesuai dengan lobus paru.

b.      Paru yang mengalami kolaps hanya tampak seperti massa radio opaque yang berada di daerah hilus. Keadaan ini menunjukkan kolaps paru yang luas sekali. Besar kolaps paru tidak selalu berkaitan dengan berat ringan sesak napas yang dikeluhkan.

c.       Jantung dan trakea mungkin terdorong ke sisi yang sehat, spatium intercostals melebar, diafragma mendatar dan tertekan ke bawah. Apabila ada pendorongan jantung atau trakea ke arah paru yang sehat, kemungkinan besar telah terjadi pneumotoraks ventil dengan tekanan intra pleura yang tinggi.


Foto Rö pneumotoraks (PA), bagian yang ditunjukkan dengan anak panah merupakan bagian paru yang kolaps



2.      Analisa Gas Darah

Analisis gas darah arteri dapat memberikan gambaran hipoksemi meskipun pada kebanyakan pasien sering tidak diperlukan. Pada pasien dengan gagal napas yang berat secara signifikan meningkatkan mortalitas sebesar 10%.

3.      CT-scan thorax

CT-scan thoraks lebih spesifik untuk membedakan antara emfisema bullosa dengan pneumotoraks, batas antara udara dengan cairan intra dan ekstrapulmoner dan untuk membedakan antara pneumotoraks spontan primer dan sekunder.

4.   USG

Pneumotoraks dapat juga didiagnosis oleh USG. Udara di rongga pleura ditampilkan pantulan gelombang yang sangat tajam. Tidak seperti udara intrapulmoner, pantulan gelombang tidak bergerak saat respirasi. Bagaimanapun juga, luas pneumotoraks ditentukan dengan radiologis dada9.

Menggunakan Linear array transducer (Small parts/high frequency probe) dengan pasien dalam posisi supinasi, scan dipermukaan anterior dinding dada menarik garis sagital (longitudinal). Scan mulai dari anterior axillary line ke para sternal line 

Tension pneumotoraks dapat berkembang (memburuk) dengan sendirinya, terutama           pada pasien dengan ventilasi tekanan positif. Hal ini bisa segera terjadi atau dalam         beberapa jam ke depan. Sebuah takikardi hipotensi, dijelaskan dan peningkatan            tekanan udara sangat progresif dari tekanan yang semakin meningkat.

Description: http://www.trauma.org/images/articles/tension.jpg

Description: http://www.trauma.org/images/articles/tension.jpg

·         Deviasi trakhea menjauh dari sisi dada yang terkena tension.

·         Pergeseran mediastinum.

·         Depresi dari diafragma-hemiselulosa.



Dengan derajat tension pneumotoraks, tidak sulit untuk menilai bagaimana fungsi kardiovaskuler dapat terganggu akibat tension, karena terdapat adanya obstruksi pada vena yang kembali ke jantung. Masif tension pneumotoraks memang seharusnya sudah dapat dideteksi secara klinis dan, dalam menghadapi kolaps hemodinamik, telah tatalaksana dengan cara emergency thoracostomy - needle atau sebaliknya.

Description: http://www.trauma.org/images/image_library/chest0004_thumb.jpg
Tension pneumotoraks kiri

Sebuah tension pneumotoraks mungkin berkembang saat pasien menjalani pemeriksaan lanjutan, seperti CT scan (gambar di bawah) atau operasi. kalaupun ada penurunan oksigenasi pasien atau status ventilasi, dada harus kembali diperiksa.

Description: http://www.trauma.org/images/image_library/chest0022_thumb.jpg
CT
dari tension pneumotoraks

Adanya (chest tube) bukan berarti pasien tidak bisa berkembang menjadi tension pneumotoraks. Pasien di bawah ini memiliki ketegangan sisi kanan meskipun adanya sebuah chest tube. Sangat mudah untuk menilai bagaimana hal ini dapat terjadi pada gambar CT  yang menunjukkan chest tube dalam fisura oblique. Chest tube disini akan ditempatkan bagian belakang dada, sehingga akan di pertahankan tetap disana ketika paru-paru didepannya menekan ke arah atas-belakang. Chest tube pada pasien trauma terlentang harus ditempatkan secara posterior untuk menghindari komplikasi ini. Komplikasi lain dari tension pneumothorax lainnya seperti haemothoraks masih akan di-drainase asalkan paru-paru telah mengembang sepenuhnya.

CT scan juga menunjukkan mengapa tension pneumotoraks tidak terlihat pada X-ray dada polos paru yang dikompresi belakang tetapi meluas keluar ke tepi dinding dada, sehingga tanda-tanda paru-paru terlihat di seluruh bidang paru-paru. Namun ada pergeseran garis tengah dibandingkan dengan film sebelumnya.

Description: http://www.trauma.org/images/image_library/chest0037a_thumb.jpg

Foto dada awal

Description: http://www.trauma.org/images/image_library/chest0037b_thumb.jpg

Setelah insersi chest tube dalam ruang mediastinum

Description: http://www.trauma.org/images/image_library/chest0037a_thumb.jpg

Dada bagian atas menunjukkan posisi chest tube

Description: http://www.trauma.org/images/image_library/chest0037b_thumb.jpg

Tension pneumotoraks kanan

Tension pneumotoraks juga dapat bertahan jika ada cedera pada jalan napas besar, mengakibatkan fistula bronkhopleura. Dalam hal ini sebuah tabung dada tidak dapat mengatasi kebocoran udara utama. Dalam kasus ini thorakotomi biasanya ditunjukkan untuk memperbaiki saluran udara dan paru-paru yang rusak.

Hati-hati juga pasien dengan tension pneumotoraks bilateral. Trakea merupakan     central, ketika perkusi dan suara nafas yang sama di kedua sisi. Pasien-pasien ini     biasanya secara haemodinamika terancam atau dalam traumatik arrest. Gawat darurat    dekompresi dada bilateral dapat menjadi bagian dari prosedur untuk traumatik arrest         dimana hal ini dimungkinkan.

Description: http://www.trauma.org/images/image_library/chest0001_thumb.jpg

ketegangan Bilateral pneumothoraces



G.    Penatalaksanaan

1.      Airway

Assessment:

a.       Perhatikan patensi airway.

b.      Auskultasi suara napas.

c.       Perhatikan adanya retraksi otot pernapasan dan gerakkan dinding dada.

Management:

a.       Inspeksi orofaring secara cepat dan menyeleruh, lakukan chin-lift dan jaw thrust, hilangkan benda yang menghalangi jalan napas.

b.      Re-posisi kepala, pasang collar-neck.

c.       Lakukan cricothyroidotomy atau tracheostomi atau intubasi (oral/nasal)

2.      Breathing

Assessment:

a.       Periksa frekuensi napas.

b.      Perhatikan gerakan respirasi.

c.       Palpasi thorak.

d.      Auskultasi dan dengarkan bunyi napas.

Management:

a.       Lakukan bantuan ventilasi bila perlu.

b.      Lakukan bedah emergency untuk atasi tension pneumothoraks.

3.      Circulation:

Assessment:

a.       Periksa frekuensi denyut jantung dan nadi.

b.      Periksa tekanan darah

c.       Periksa pulse oxymetri.

d.      Periksa vena leher dan warna kulit (adanya sianosis

Management:

a.       Resusitasi cairan dengan memasang 2 iv lines.

b.      Thorakotomi emergency bila diperlukan.

c.       Operasi eksplorasi vaskuler emergency.

(Suddarth dan Brunner, 2009)

Penatalaksanaan lain:

1.      Needle Thoracostomy

Tension pnumothorax membutuhkan dekompresi yang segera. Dekompresi ini dapa           dilakukan dengan memasukkan jarum ke ruang intercostal ke dua pada garin          midclavicular pada sisi dada yang terkena. Terapi definitifnya biasanya membutuhkan         insersi chest tube ke dalam ruang pleural melalui ruang intercostal ke lima (setinggi         puting susu) dibagian depan di garis midclavicular.

Prinsip terapi dari tension pneumothrax ini adalah menjaga jalan nafas agar tetap terbuka, menjaga kualitas ventilasi, oksigenasi, menghilangkan penyebab traumanya dan menghilangkan udara di ruang pleura, dan mengontrol ventilasi.

Keberhasilan dari terapi yang kita lakukan bisa dinilai dari hilangnya udara bebas pada ruang interpleural dan pencegahan pada kekambuhan atau recurensi.

Pada kasus tension pneumotoraks, tidak ada pengobatan non-invasif yang dapat dilakukan untuk menangani kondisi yang mengancam nyawa ini. Pneumotoraks adalah kondisi yang mengancam jiwa yang membutuhkan penanganan segera. Jika diagnosis tension pneumotoraks sudah dicurigai, jangan menunda penanganan meskipun diagnosis belum ditegakkan.

Pada kasus tension pneumotoraks, langsung hubungkan pernafasan pasien dengan 100% oksigen. Lakukan dekompresi jarum tanpa ragu. Hal-hal tersebut seharusnya sudah dilakukan sebelum pasien mencapai rumah sakit untuk pengobatan lebih lanjut. Setelah melakukan dekompresi jarum, mulailah persiapan untuk melakukan torakostomi tube. Kemudian lakukan penilaian ulang pada pasien, perhatikan ABCs (Airway, breathing, cirvulation) pasien. Lakukan penilaian ulang foto toraks untuk menilai ekspansi paru, posisi dari torakostomi dan untuk memperbaiki adanya deviasi mediastinum. Selanjutnya, pemeriksaan analisis gas darah dapat dilakukan.

Dekompresi sebaiknya dilakukan seawal mungkin pada kasus pneumothoraks yang luasnya >15%. Pada intinya, tindakan ini bertujuan untuk mengurangi tekanan intra pleura dengan membuat hubungan antara rongga pleura dengan udara luar dengan cara :

a.              Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk rongga pleura, dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi negatif karena mengalir ke luar melalui jarum tersebut.

b.              Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil :

1)      Dapat memakai infus set

Jarum ditusukkan ke dinding dada sampai ke dalam rongga pleura, kemudian infus set yang telah dipotong pada pangkal saringan tetesan dimasukkan ke botol yang berisi air. Setelah klem penyumbat dibuka, akan tampak gelembung udara yang keluar dari ujung infus set yang berada di dalam botol.

2)      Jarum abbocath

Jarum abbocath merupakan alat yang terdiri dari gabungan jarum dan kanula. Setelah jarum ditusukkan pada posisi yang tetap di dinding toraks sampai menembus ke rongga pleura, jarum dicabut dan kanula tetap ditinggal. Kanula ini kemudian dihubungkan dengan pipa plastik infus set. Pipa infuse ini selanjutnya dimasukkan ke botol yang berisi air. Setelah klem penyumbat dibuka, akan tampak gelembung udara yang keluar dari ujung infuse set yang berada di dalam botol.

3)      Pipa water sealed drainage (WSD)

Water Seal Drainage (WSD) adalah Suatu sistem drainage yang menggunakan water seal untuk mengalirkan udara atau cairan dari cavum pleura (rongga pleura)

Tujuan:
• Mengalirkan / drainage udara atau cairan dari rongga pleura untuk mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut
• Dalam keadaan normal rongga pleura memiliki tekanan negatif dan hanya terisi sedikit cairan pleura / lubrican.                                  

Tindakan bedah:

a.       Dengan pembukaan dinding toraks melalui operasi, kemudian dicari lubang yang menyebabkan pneumothoraks kemudian dijahit

b.      Pada pembedahan, apabila ditemukan penebalan pleura yang menyebabkan paru tidak bisa mengembang, maka dapat dilakukan dekortikasi.

c.       Dilakukan reseksi bila terdapat bagian paru yang mengalami robekan atau terdapat fistel dari paru yang rusak

d.      Pleurodesis. Masing-masing lapisan pleura yang tebal dibuang, kemudian kedua pleura dilekatkan satu sama lain.



H.    Komplikasi

1.      Gagal napas akut (3-5%)

2.      Komplikasi tube torakostomi àlesi pada nervus interkostales

3.      Henti jantung-paru

4.      Infeksi sekunder dari penggunaan WSD

5.      Kematian timbul cairan intra pleura, misalnya Pneumothoraks disertai efusi pleura : eksudat, pus. Pneumothoraks disertai darah : hemathotoraks.

6.      Syok (Alagaff, 2005)

7.      Tension pneumothoraks dapat menyebabkan pembuluh darah kolaps, akibatnya pengisian jantung menurun sehingga tekanan darah menurun. Paru sehat juga dapat terkena dampaknya.

8.      Pneumothoraks dapat menyebabkan hipoksia dan dispnea berat. Kematian dapat terjadi (Corwin, 2009).



I.       Prognosis

Hampir 50% mengalami kekambuhan setelah pemasangan tube torakostomi tapi kekambuhan jarang terjadi pada pasien-pasien yang dilakukan torakotomi terbuka.

Pada klien dengan tension pneumotoraks yang ditangani dengan cukup baik, umumnya tidak dijumpai komplikasi. Akan tetapi pada klien yang dengan penyakit mendasar seperti PPOK harus lebih berhati-hati karena berbahaya dan mengancam nyawa. (Suyono, Slamet. 2001)

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN



A.    PENGKAJIAN

1.      Manifestasi awal : nyeri dada, dispnea, ansietas, takipnea, takikardi, hipersonor dinding dada dan tidak ada suara napas pada sisi yang sakit.

2.      Manifestasi lanjut : tingkat kesadaran menurun, trachea bergeser menuju ke sisi kontralateral, hipotensi, pembesaran pembuluh darah leher/ vena jugularis (tidak ada jika pasien sangat hipotensi) dan sianosis.

3.      Terjadi sesak napas yang progresif dan berat

4.      Terdapat kolaps dengan pulsus kecil dan hipotensi berat sebagai akibat gangguan pada jantung dan terhalangnya aliran balik vena ke jantung.

5.      Tanda-tanda pergesaran mediastinum jelas terlihat

6.      Perkusi timpani

7.      Dada tampak asimetris



B.     Diagnosis

1.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler-alveolar.

2.      Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru.

3.      Risiko infeksi dengan factor risiko tindakan infasif.



C.    Rencana Keperawatan

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi
Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
1.      Gangguan Pertukaran gas
 Berhubungan dengan :
è ketidakseimbangan perfusi ventilasi
è perubahan membran kapiler-alveolar


NOC:
v Respiratory Status : Gas exchange
v Keseimbangan asam Basa, Elektrolit
v Respiratory Status : ventilation
v Vital Sign Status
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam Gangguan pertukaran pasien teratasi dengan kriteria hasi:
v  Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat
v  Memelihara kebersihan paru paru dan bebas dari tanda tanda distress pernafasan
v  Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
v  Tanda tanda vital dalam rentang normal
v  AGD dalam batas normal
v  Status neurologis dalam batas normal
NIC :
·   Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
·   Pasang mayo bila perlu
·   Lakukan fisioterapi dada jika perlu
·   Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
·   Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
·   Berikan bronkodilator 
·   Barikan pelembab udara
·   Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
·   Monitor respirasi dan status O2
·   Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostal
·   Monitor suara nafas, seperti dengkur
·   Monitor pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
·   Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara tambahan
·   Monitor TTV, AGD, elektrolit dan ststus mental
·   Observasi sianosis khususnya membran mukosa
·   Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang persiapan tindakan dan tujuan penggunaan alat tambahan (O2, Suction, Inhalasi)
·   Auskultasi bunyi jantung, jumlah, irama dan denyut jantung



Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi
Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan :
-    Hiperventilasi
-    Kelelahan otot pernafasan
-    Hipoventilasi sindrom

NOC:
vRespiratory status : Ventilation
vRespiratory status : Airway patency
vVital sign Status

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien menunjukkan keefektifan pola nafas, dibuktikan dengan kriteria hasil:
vMendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dg mudah, tidakada pursed lips)
vMenunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
vTanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)
NIC:
·    Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
·    Pasang mayo bila perlu
·    Lakukan fisioterapi dada jika perlu
·    Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
·    Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
·    Berikan bronkodilator 
·    Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
·    Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
·    Monitor respirasi dan status O2
v Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
v Pertahankan jalan nafas yang paten
v Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
v Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi
v Monitor  vital sign
v Informasikan pada pasien dan keluarga tentang tehnik relaksasi untuk memperbaiki pola nafas.
v Ajarkan bagaimana batuk efektif
v Monitor pola nafas    




Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi
Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Risiko infeksi

Faktor-faktor risiko :
-   Prosedur Infasif

NOC :
v Immune Status
v Knowledge : Infection control
v Risk control
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, pasien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil:
v Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
v Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
v Jumlah leukosit dalam batas normal
v Menunjukkan perilaku hidup sehat
v Status imun, gastrointestinal, genitourinaria dalam batas normal

NIC :
·   Pertahankan teknik aseptif
·   Batasi pengunjung bila perlu
·   Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
·   Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
·   Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan petunjuk umum
·   Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
·   Tingkatkan intake nutrisi
·   Berikan terapi antibiotikMonitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
·   Pertahankan teknik isolasi k/p
·   Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
·   Monitor adanya luka
·   Dorong masukan cairan
·   Dorong istirahat
·   Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
·   Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4 jam












DAFTAR PUSTAKA

Alagaff, Hood, dkk. 2005. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga                          University Press.

Aru W.Sudoyo,dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Ed V. Jakarta:

 Interna Publishing.

Kowalak, Jennifer P, Dkk. 2011. Buku Ajar Patofisiologi: Sistem Pernapasan

       Pneumothoraks. Jakarta: EGC.

Manson, J. Robert. 2010. Murray & Nadel’s Textbook of Respiratory Medicine, 5/e.

 Saunders. Philadelphia.

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dangan Gangguan System

       Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika

Sudoyo, Aru W. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II Ed. IV. Jakarta: Pusat                       Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas             Indonesia






No comments:

Post a Comment